Rabu, 21 Januari 2026

Warga Kepulauan Aru Gelar Ritual Adat Penguburan Paus Terdampar


  • Senin, 15 Maret 2021 | 19:56
  • | News
 Warga Kepulauan Aru Gelar Ritual Adat Penguburan Paus Terdampar Foto: Dok KKP

ARAHDESTINASI.COM: Warga Kepulauan Aru, Provinsi Maluku belum lama ini melakukan ritual adat untuk menguburkan mamalia terdampar dari jenis Paus Sperma (Physester macrocephalus) yang ditemukan di Desa Hokmar, Kecamatan Aru tengah Utara, Kabupaten Kepulauan Aru.

Kepala Balai Kawasan Konservasi Nasional (BKKPN) Kupang Imam Fauzi, memaparkan bahwa Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang dikenal kaya habitat mamalia laut.

Di wilayah itu terdapat kearifan lokal menghargai dan menghomati mamalia laut yang terdampar. Masyarakat yang dipimpin oleh tetua adat akan melakukan ritual sebelum menguburkan, karena warga percaya bahwa leluhur mereka berasal dari paus. Jom Bi’jarum merupakan bahasa lokal yang biasa digunakan untuk istilah kepercayaan bahwa leluhur berasal dari paus.

“Mamalia laut dengan jenis Paus Sperma mati terdampar di pantai. Sebelumnya warga bergotong royong berusaha menyelamatkan paus tersebut, namun paus terus kembali ke pantai,” ungkap Imam di Kupang.

Imam menjelaskan Paus yang terdampar memiliki panjang tubuh kurang lebih 4 meter dan berjenis kelamin betina. Untuk melindungi bangkai paus agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, pada Minggu (7/3) lalu, warga dengan persetujuan tetua adat melakukan ritual adat penguburan paus.

Mengetahui ritual penguburan paus tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang menyampaikan apresiasi kepada masyarakat.

“Saya mewakili Kementerian Kelautan dan Perikanan sangat mengapresiasi kesadaran masyarakat Kepulauan Aru dalam menyelamatkan paus yang terdampar tersebut. Masyarakat langsung tergerak untuk menyelamatkan biota laut yang malang ini tanpa mengharapkan imbalan apapun,” ujar Imam.

Imam juga menjelaskan bahwa peran masyarakat pesisir melalui pelaksanaan kearifan lokal ini sangat mendukung upaya pemerintah dalam melindungi mamalia laut. Dia berharap kearifan lokal masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru dapat dilestarikan dan dijaga serta menjadi salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Kepulauan Aru.

Dalam perlindungan biota laut, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono berkomitmen selalu memastikan kelestarian biota laut dan keberlanjutan populasinya untuk kesejahteraan bangsa dan generasi yang akan datang. Pasalnya, mamalia laut merupakan biota laut yang terancam punah dan statusnya telah dilindungi penuh secara nasional dan internasional. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru