Loading
Milenial dan Gen Z Ubah Wajah Pariwisata, Kemenpar: Wisata Tematik Kini Jadi Tren Baru. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHDESTINASI.COM – Cara orang berlibur kini berubah. Jika dulu wisata identik dengan mengunjungi tempat populer, kini banyak pelancong justru mencari pengalaman yang lebih personal, autentik, dan bermakna.
Perubahan itu, menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar), banyak dipengaruhi oleh karakter generasi milenial dan Gen Z. Kedua generasi yang tumbuh bersama teknologi digital ini mendorong lahirnya berbagai tren baru, termasuk semakin populernya wisata tematik di berbagai daerah.
Juru Bicara Kemenpar, Nia Niscaya, mengatakan perkembangan pariwisata global kini bergerak menuju pengalaman yang autentik, berkelanjutan, sekaligus berbasis teknologi.
"Generasi milenial dan Gen Z sebagai wisatawan digital-native mendorong munculnya tren baru seperti pariwisata berbasis lingkungan, wisata kebugaran, wisata olahraga, hingga Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE)," kata Nia di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Teknologi Jadi Penggerak Wisata Masa Depan
Baca juga:
Kemenpar Luncurkan Wonderful Indonesia Scale-up Hub 2025 untuk Akselerasi Usaha PariwisataNia menjelaskan, pertumbuhan wisata tematik tidak lepas dari perkembangan teknologi digital. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), hingga Augmented Reality dan Virtual Reality (AR/VR) membuat pengalaman berwisata menjadi lebih personal, efisien, sekaligus imersif.
Teknologi juga mengubah posisi wisatawan dari sekadar pengunjung menjadi pusat ekosistem digital pariwisata, di mana layanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing pelancong.
Wisatawan Mancanegara dan Nusantara Punya Selera Berbeda
Meski sama-sama menyukai pengalaman autentik, wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara memiliki prioritas yang berbeda dalam memilih destinasi.
Menurut Nia, terdapat enam jenis wisata yang menjadi tren di kedua kelompok, yakni:
"Perbedaan utama terletak pada motivasi dan intensitas minat terhadap masing-masing jenis wisata. Kedua segmen ini dipertemukan dengan fokus perjalanan yang lebih bermakna dan otentik," ujarnya.
Wisatawan mancanegara umumnya lebih tertarik pada wisata budaya, wisata ramah lingkungan, serta wisata alam dan petualangan. Pilihan tersebut mencerminkan keinginan untuk membangun koneksi lintas budaya sekaligus kepedulian terhadap isu keberlanjutan.
Sementara itu, wisatawan nusantara lebih banyak memilih wisata kuliner dan gastronomi serta pengalaman budaya. Tren ini menunjukkan bahwa kenyamanan, relaksasi, dan eksplorasi cita rasa masih menjadi daya tarik utama ketika berlibur di dalam negeri.
Wisata Olahraga Diprediksi Tumbuh Paling Cepat
Selain wisata tematik, Kemenpar juga melihat wisata olahraga (sport tourism) sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Mengutip data UN Tourism (UNWTO), Nia menyebut wisata olahraga menyumbang sekitar 10 persen dari total pengeluaran wisatawan global. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat dengan laju pertumbuhan mencapai 17,5 persen per tahun hingga 2030.
"Pertumbuhan ini didorong oleh kecenderungan wisatawan yang mencari pengalaman yang berkesan sekaligus menyehatkan, bukan hanya sebagai hiburan," kata Nia.
Menurut Kemenpar, perubahan perilaku wisatawan ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan lebih banyak destinasi wisata tematik yang mengedepankan pengalaman, budaya lokal, keberlanjutan, serta dukungan teknologi digital.