Senin, 15 Juni 2026

Ubud Food Festival Perkuat Posisi Ubud sebagai Destinasi Wisata Kuliner Dunia


 Ubud Food Festival Perkuat Posisi Ubud sebagai Destinasi Wisata Kuliner Dunia Pendiri dan Direktur Ubud Food Festival Janet DeNeefe dan Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana memberikan keterangan saat konferensi pers Ubud Food Festival di Denpasar, Bali, Rabu (13/5/2026). ANTARA/Rolandus Nampu

DENPASAR, ARAHDESTINASI.COM – Ubud kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat wisata budaya dan kuliner dunia melalui penyelenggaraan Ubud Food Festival. Festival kuliner berskala internasional ini dinilai bukan hanya mampu menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga menjadi panggung penting untuk memperkenalkan kekayaan pangan lokal Indonesia ke dunia internasional.

Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati, Ketut Suardana mengatakan, Ubud memiliki kekuatan sejarah, budaya, dan kreativitas yang membuat kawasan tersebut sangat ideal menjadi tuan rumah festival internasional seperti Ubud Food Festival.

Dalam konferensi pers di Denpasar, Bali, Rabu, ia menjelaskan bahwa nama Ubud sebenarnya sudah dikenal dunia sejak lama, bahkan sejak era Expo Paris tahun 1931 pada masa Hindia Belanda.

“Ubud memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan sudah lama dikenal dunia internasional. Dari dulu, Ubud menjadi magnet bagi para seniman dan budayawan dunia,” ujarnya.

Menurut Ketut, identitas Ubud sebagai pusat seni dan budaya Bali membuat daerah ini memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan global maupun pelaku industri kreatif internasional. Sejak dahulu, banyak pelukis, penari, musisi, hingga tokoh budaya dunia datang dan menetap di Ubud, sehingga membentuk karakter khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Karena itu, penyelenggaraan Ubud Food Festival dinilai memiliki keunikan tersendiri. Festival ini bukan sekadar menghadirkan makanan, tetapi juga mempertemukan budaya, kreativitas, dan tradisi dalam satu ruang yang hidup.

“Ubud menjadi ikon budaya Bali dan mendapat respons luar biasa dari dunia internasional. Festival seperti Ubud Food Festival memiliki karakter kuat dan selalu menarik perhatian,” katanya.

Ia menilai, festival tersebut juga memberi dampak besar terhadap perkembangan industri kuliner kreatif. Tidak hanya memperkenalkan makanan tradisional Nusantara, Ubud Food Festival juga menjadi ruang lahirnya tren gastronomi modern, budaya kopi, hingga kolaborasi kuliner lintas negara.

Selain itu, festival ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar dan memperkenalkan produk mereka melalui sektor pariwisata berbasis budaya dan kuliner.

Lebih jauh, Ketut menekankan bahwa makanan dalam budaya Bali bukan sekadar soal rasa. Ada nilai spiritualitas dan filosofi hidup yang menyertai setiap proses pengolahan hingga penyajiannya.

Menurutnya, masyarakat Bali memandang makanan sebagai bagian dari persembahan suci dan bentuk rasa syukur kepada alam semesta.

“Makanan bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga memiliki jiwa dan spiritualitas. Para chef, baik lokal maupun internasional, diharapkan tetap membawa nilai budaya dan tradisi dalam setiap sajian,” ujarnya dikutip Antara.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus menghormati dan memuliakan para petani sebagai penjaga sumber pangan dan kelestarian alam, sejalan dengan semangat Sat Kerthi Loka Bali.

Melalui penyelenggaraan Ubud Food Festival, kekayaan kuliner Nusantara diharapkan semakin dikenal dunia sekaligus memperkuat ketahanan budaya, tradisi, dan pariwisata Bali yang berkelanjutan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kuliner Terbaru