Kamis, 14 Mei 2026

Usaha Pariwisata Bali Kesulitan Bayar Listrik


  • Rabu, 13 Mei 2020 | 20:26
  • | News
 Usaha Pariwisata Bali Kesulitan Bayar Listrik Ilustrasi: Colin Behrens from Pixabay

ARAHDESTINASI.COM: Sejumlah destinasi wisata di Bali tak sanggup membiayai berbagai aspek operasional, termasuk menunggak tagihan listrik karena tidak adanya cash flow akibat sepi pengunjung.

I Ketut Mardjana, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPC Bangli, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah kunjungan wisatawan ke Bali turun hingga 95%, sehingga membuat kamar-kamar hotel tak berpenghuni dan jutaan karyawan terpaksa dirumahkan.

Dalam kondisi seperti itu, banyak destinasi atau usaha pariwisata yang tak sanggup membiayai berbagai aspek operasional, di antaranya listrilk.

Sementara itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) tetap menjalankan standar kebijakan operasional seperti biasanya, yaitu memutus aliran listrik bagi pelanggan yang menunggak. Kebijakan yang tak peka situasi ini dinilai sangat tidak kooperatif oleh sejumlah pengusaha wisata Bali.

“Presiden Jokowi telah memperlihatkan semangatnya untuk membantu pariwisata Indonesia dengan paket-paket stimulus ekonomi agar pariwisata bisa pelan-pelan bangkit kembali. Namun PLN sepertinya tidak peka terhadap situasi karena kami masih dikenakan sanksi reguler seperti tidak ada pandemi. Ini sangat memberatkan,” ujar Ketut Mardjana

Dalam keterangan pers tertulis yang diterima redaksi,pernyataan Ketut Mardjana didukung Association of The Indonesian Tour & Travel (ASITA) Bali I Putu Winastra dan Ketua PHRI Tabanan I Gusti Bagus Damara.

Mereka menyampaikan bahwa pengusaha pariwisata menanggung hajat hidup karyawan yang kehilangan pekerjaan. “Ini bukan semata soal pengusaha, tapi juga menyangkut hajat hidup orang banyak,” ujar Mardjana.

Pemilik destinasi wisata terbesar di Kabupaten Bangli ini mencontohkan, dengan terputusnya aliran listrik di destinasi miliknya itu, akhirnya juga mengganggu pariwisata Bangli secara umum, karena ada banyak konstituen bisnis yang bergantung pada destinasinya.

“Bukan hanya ratusan karyawan yang terpaksa kami rumahkan, tapi juga akan mematikan bisnis-bisnis kecil seperti tour guide, transportasi independen, homestay, tempat-tempat kos, usaha laundry, warung-warung dan supply chain kami,” ujar Mardjana yang juga founder dan General Manager Toya Devasya, destinasi pemandian air hangat terbesar di Bali yang bermukim di wilayah kaldera Kintamani.

Dampak dari pemutusan listrik di Toya Devasya merupakan simulasi terancamnya pariwisata Bali jika PLN tidak cepat-cepat mengambil langkah yang strategis.

Sekjen ASITA Bali, Putu Winastra, pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa mereka memahami jika ini bukan kebijakan PLN daerah. Karena itu, ia berharap agar pemberitaan ini dapat didengar dan menjadi masukan bagi para pengambil keputusan di Jakarta, terutama Kementerian ESDM, BUMN dan Kemenparekraf.

“Ini bukan soal Bangli atau Bali saja, tapi juga soal Indonesia karena kebijakan ini berlaku nasional. Ini juga bukan soal industri pariwisata saja, tapi juga industri pada umumnya. Karena itu saya berharap agar pemerintah pusat dapat melakukan langkah- langkah yang cepat dan tepat agar dapat memberikan keringanan bagi para pengusaha di tengah ujian berat ini,” tutupI Ketut Mardjana. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru