Loading
Sebuah pesawat Lufthansa bersiap untuk mendarat di Bandar Udara Internasional Frankfurt di Frankfurt, Jerman, pada 17 Januari 2022. ANTARA/Xinhua/Lu Yang.
JAKARTA, ARAHDESTINASI.COM – Lonjakan harga bahan bakar pesawat jet mulai memberi tekanan besar pada industri penerbangan Eropa. Sejumlah maskapai kini terpaksa membatalkan penerbangan, terutama untuk rute-rute yang dinilai tidak lagi menguntungkan secara finansial.
Komisioner Transportasi Uni Eropa, Apostolos Tzitzikostas, mengatakan bahwa hingga saat ini Eropa memang belum menghadapi krisis pasokan bahan bakar pesawat. Namun, kenaikan harga avtur menjadi tantangan serius bagi maskapai penerbangan.
“Masalah utama saat ini bukan kekurangan bahan bakar, melainkan harga bahan bakar yang melonjak tajam. Kondisi ini membuat banyak penerbangan tertentu tidak lagi layak secara ekonomi,” ujar Tzitzikostas dalam konferensi pers di Brussels, Rabu (13/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat Uni Eropa memperkenalkan paket inisiatif bertajuk “Satu perjalanan, satu tiket, hak penuh”.
Program ini bertujuan mempermudah masyarakat Eropa dalam melakukan perjalanan lintas negara, termasuk integrasi layanan kereta api dan sistem pemesanan transportasi yang lebih sederhana.
Dampak lonjakan harga bahan bakar juga mulai dirasakan oleh maskapai besar di Eropa. Grup maskapai nasional Jerman, Lufthansa Group, sebelumnya mengumumkan pemangkasan sekitar 20 ribu penerbangan jarak pendek pada jadwal musim panas hingga Oktober 2026.
Langkah tersebut diambil untuk mengurangi tekanan biaya operasional yang meningkat tajam sejak memanasnya konflik Iran di kawasan Timur Tengah. Pengurangan jadwal penerbangan itu diperkirakan memangkas kapasitas operasional kurang dari satu persen dalam ukuran Available Seat Kilometers (ASK).
Meski terlihat kecil secara persentase, kebijakan tersebut diproyeksikan mampu menghemat lebih dari 40 ribu metrik ton bahan bakar jet dikutip Antara.
Sebagian besar penerbangan yang dipangkas berasal dari rute-rute jarak pendek yang dinilai kurang menguntungkan, terutama dari hub utama Frankfurt dan Munich. Di sisi lain, Lufthansa justru berencana memperkuat layanan penerbangan dari Zurich, Wina, dan Brussels sebagai bagian dari strategi optimalisasi jaringan penerbangan mereka di Eropa.
Kondisi ini menunjukkan bahwa industri penerbangan global masih sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga energi. Jika harga bahan bakar terus naik dalam beberapa bulan ke depan, bukan tidak mungkin lebih banyak maskapai akan melakukan penyesuaian jadwal maupun tarif penerbangan.