Loading
Festival Jatiluwih Ke-5 - (Foto: Istimewa/Koranjuri.com)
DENPASAR, ARAHDESTINASI.COM – Kawasan wisata Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, mencoba bangkit dan memperkuat citra pariwisatanya lewat cara yang berbeda. Tahun ini, Jatiluwih Festival 2026 akan dipadukan dengan ajang lari santai bertajuk Bali Tourism Run yang mengajak peserta menikmati keindahan sawah berundak khas Bali.
Langkah tersebut dilakukan setelah kawasan wisata yang masuk Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO itu sempat terdampak konflik tata ruang yang memicu penurunan jumlah kunjungan wisatawan.
Manager Operasional DTW Jatiluwih, John Ketut Purna, mengatakan kolaborasi festival dan ajang lari dipilih untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan sekaligus memperlihatkan bahwa Jatiluwih tetap aman dan nyaman untuk dikunjungi.
“Salah satu tujuan kami memperkuat citra agar peserta tahu Jatiluwih saat ini aman-aman saja. Waktu muncul kasus pemasangan seng, kunjungan sempat turun drastis dan akhirnya masyarakat yang paling terdampak,” ujarnya di Denpasar, Rabu (27/5/2026).
Sebelumnya, kawasan DTW Jatiluwih memang sempat menghadapi polemik pelanggaran tata ruang. Sejumlah bangunan usaha wisata di area subak disegel pemerintah karena dinilai melanggar aturan kawasan konservasi. Situasi itu bahkan memicu aksi pemasangan pagar seng yang sempat menjadi sorotan publik.
Kini, setelah konflik mulai mereda dan ditemukan solusi bersama, masyarakat bersama pengelola kembali fokus membangkitkan sektor pariwisata melalui Jatiluwih Festival.
Lari Santai di Tengah Sawah Jadi Daya Tarik
Ajang Bali Tourism Run dipilih karena dianggap mampu memberikan pengalaman wisata berbeda. Peserta tidak hanya berolahraga, tetapi juga menikmati langsung panorama sawah hijau Jatiluwih yang terkenal hingga mancanegara.
Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) dan Pemerintah Provinsi Bali.
Menurut John, konsep lari santai di tengah area persawahan akan memberi kesan unik bagi wisatawan sekaligus memperkuat citra Jatiluwih sebagai destinasi wisata berkualitas yang tetap menjaga alam dan budaya lokal.
Jatiluwih Festival 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Juni 2026. Hari pertama akan diisi dengan berbagai pertunjukan hiburan rakyat dan pengalaman langsung bertani di sawah. Pengunjung bahkan dapat ikut merasakan suasana panen raya yang bertepatan dengan musim panen.
Sementara itu, pada hari kedua, sekitar 2.000 peserta ditargetkan mengikuti Bali Tourism Run dengan rute menyusuri hamparan sawah berundak yang menjadi ikon Jatiluwih.
UMKM Lokal Ikut Didorong
Tidak hanya fokus pada wisata, festival ini juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat lokal. Puluhan pelaku UMKM dan petani akan dilibatkan selama acara berlangsung.
Peserta lari nantinya akan mendapatkan kupon belanja produk lokal yang bisa digunakan di tenant UMKM. Skema ini diharapkan membantu meningkatkan penjualan produk lokal sekaligus memberi pengalaman wisata yang lebih berkesan bagi pengunjung.
Festival yang masuk dalam jajaran Kharisma Event Nusantara (KEN) tersebut diharapkan mampu mengembalikan jumlah kunjungan wisatawan yang sebelumnya sempat turun hingga hanya sekitar 500–600 orang per hari. Sebelum konflik terjadi, angka kunjungan harian Jatiluwih bisa mencapai lebih dari 1.000 wisatawan.
Wisatawan Asing Dinilai Masih Potensial
Ekonom sekaligus mantan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bali, Trisno Nugroho, menilai langkah kolaborasi antara DTW Jatiluwih, Asita, dan Pemprov Bali merupakan strategi yang tepat untuk mendongkrak pariwisata.
Ia menjelaskan, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali memang sempat melambat pada awal 2026, namun mulai menunjukkan peningkatan sejak April.
Saat ini, sekitar 70 persen pengunjung Jatiluwih masih didominasi wisatawan asing.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah justru membuat Bali semakin menarik bagi wisatawan luar negeri karena biaya liburan menjadi relatif lebih murah.
“Yang paling penting sekarang adalah menjaga kualitas destinasi,” katanya dikutip Antara.
Trisno juga menilai konsep wisata olahraga seperti lari santai memiliki peluang besar menarik perhatian dunia karena kini olahraga lari telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
“Berlari di tengah sawah Jatiluwih tentu memberi pengalaman berbeda dan bisa menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan,” ujarnya.