Loading
Foto: Dok Kemendes PDTT
ARAHDESTINASI.COM: Peserta Workshop on Innovative Rural Community Development Models yang diselenggarakan di Yogyakarta selama lima hari yaitu 22-27 Oktober 2018 bergembira-ria di objek wisata Umbul Ponggok. Peserta dari berbagai negara itu, tak segan berenang dan berfoto di dalam air.
Prof. Hugh Bigsby, salah satu narasumber yang juga Dekan Universitas Lincoln, New Zealand tak ragu menceburkan diri ke dalam kolam. "Airnya segar. Saya suka berenang dikelilingi ikan seperti ini," katanya. Demikian pula narasumber dari Universitas Kyoto, Jepang, Prof. Mikio Umeda. Ia sangat tertarik dan senang bisa ikut berkunjung ke Desa Ponggok, Klaten. “Saya belum pernah lihat tempat wisata air yang seperti ini. Di Jepang tidak ada yang begini,” ungkapnya. Komentar senada juga datang dari peserta dari Filipina, Dinna Lynne Ordona. Dia mengaku sangat senang dapat bergabung dengan workshop ini. “Kami bisa melihat langsung dan mewawancarai penduduk. BUMDes ini bagus, sehingga warga desa tidak perlu ke kota untuk mendapatkan pekerjaan,” katanya.
Kunjungan ke Desa Ponggok, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dilakukan agar peserta workshop tersebut bisa melihat langsung kisah sukses Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri yang dibina Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).
Kepala Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten Junaidi Mulyono menerima rombongan delegasi Asian Productivity Organization (APO) yyang ingin melihat langsung inovasi dan keberhasilan Desa Ponggok dalam mengelola sumber daya alamnya. Keberhasilan itu terbukti telah mengangkat kehidupan ekonomi warga desa menjadi lebih sejahtera. Junaidi yang juga Direktur BUMDes Tirta Mandiri, kepada peserta memaparkan pentingnya desa untuk memiliki masterplan pembangunan desa sebagai visi misi desa. “Oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Desa Ponggok dinobatkan sebagai Desa Minapolitan karena perikanan menjadi unggulan di sini,” ungkap Junaidi bangga. Dia menuturkan dari sektor perikanan Desa Ponggok menghasilkan 4,5 ton per bulan. “Kegiatan itu dikelola oleh ibu-ibu PKK dengan penghasilan sebesar Rp 125 juta per bulan,” ujarnya.
Keberhasilan tersebut membawa dampak baik. Desa Ponggok kini menjadi desa mandiri, desa mampu menyediakan berbagai fasilitas bagi warganya, antara lain, pelayanan dasar kesehatan gratis, pemberian gaji bagi karyawan BUMDes 3 kali lipat lebih besar daripada upah minimum rata-rata (UMR) Kabupaten Klaten, dan pemberian jaminan pendidikan. “Masyarakat Desa Ponggok juga mempunyai investasi di BUMDes dan mendapatkan penghasilan sebesar 10-15 persen per bulannya,” tambah Junaidi. Kini Desa Ponggok juga telah menggunakan aplikasi Desa Pintar sebagai bentuk sistem informasi layanan publik yang bertujuan untuk memudahkan urusan administrasi desa. Selain itu juga untuk memudahkan monitoring aset desa sekaligus sebagai alat handling complaint system. Pun demikian dalam memasarkan produk-produk BUMDes, mereka sudah bekerjasama dengan platform online di antaranya Traveloka dan Bukalapak. Laboratorium AlamKepala Bagian Kerjasama Luar Negeri Biro Humas dan Kerjasama Kemendes PDTT Theresia Junidar mengatakan Ponggok merupakan laboratorium alam untuk melihat salah satu model inovasi pemberdayaan masyarakat desa. “Workshop ini menjadi sarana bagi negara-negara di Asia Pasifik untuk mengenal model pemberdayaan masyarakat desa yang inovatif. Program BUMDes di Ponggok ini menjadi inspirasi percontohan bagi 19 negara yang termasuk dalam anggota APO,” katanya. Peserta workshop sangat antusias dalam mengikuti kunjungan ke BUMDes Ponggok. Mereka berdiskusi dan mengamati proses pengelolaan BUMDes baik dari pengelolaan keuangan maupun manajemen BUMDes
APO adalah sebuah organisasi kerjasama multilateral. Organisasi ini bergerak dalam bidang program peningkatan produktivitas. Indonesia bergabung menjadi anggota APO sejak tahun 1968. Saat ini ada 20 negara anggota APO. Negara-negara tersebut adalah Indonesia, Pakistan, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Bangladesh, Kamboja, China, Fiji, Hong Kong, India, Iran, Jepang, Korea, Laos, Malaysia, Mongolia, Nepal, Thailand dan Vietnam. (*)