Loading
Nepal terapkan sistem pelacakan turis asing mulai 2026. (IG @lintangrowe)
JAKARTA, ARAHDESTINASI.COM - Pemerintah Nepal akan mulai menerapkan sistem pelacakan digital bagi wisatawan asing mulai 1 Januari tahun depan. Melalui kebijakan ini, seluruh hotel dan pelaku usaha pariwisata diwajibkan melaporkan lokasi serta data akomodasi turis secara otomatis ke basis data pemerintah pusat.
Langkah tersebut diambil seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang hampir kembali ke level sebelum pandemi. Otoritas Nepal menyebut sistem baru ini bertujuan memperkuat keamanan, mempermudah operasi penyelamatan darurat, serta menekan penyalahgunaan visa oleh warga negara asing.
Direktur Departemen Imigrasi Nepal, Teekaram Dhakal, mengatakan sistem registrasi digital memungkinkan pemerintah memiliki data lengkap seluruh pengunjung asing yang masuk ke Nepal. Informasi tersebut dapat digunakan untuk melacak keberadaan turis dalam kondisi darurat tanpa melanggar privasi.
Baca juga:
Eksplorasi Indonesia Makin Nyaman, Ratusan Ribu Turis Asing Pilih Kereta Api Sepanjang 2025Sistem baru ini, dilansir South China Morning Post, terintegrasi dengan portal NepaliPort, platform daring yang sebelumnya telah menggabungkan layanan visa, izin pendakian, dan kebutuhan perjalanan lainnya. Aplikasi selulernya menggunakan kode QR untuk mempermudah pemeriksaan di bandara, proses check-in hotel, hingga perpanjangan visa.
Sebagai negara dengan delapan dari sepuluh gunung tertinggi di dunia, Nepal kerap menghadapi tantangan keselamatan bagi wisatawan, terutama pendaki di jalur Everest dan Annapurna. Medan ekstrem, cuaca tidak menentu, dan lokasi terpencil sering menyulitkan proses pencarian ketika turis dilaporkan hilang.
Dalam 12 bulan hingga Juli lalu, tercatat 12 pendaki asing meninggal dunia di wilayah Annapurna. Awal bulan ini, seorang pendaki asal Jerman juga ditemukan tewas setelah beberapa hari dilaporkan hilang di kawasan yang sama. Otoritas menilai sistem pelacakan baru dapat membantu mengidentifikasi lokasi terakhir wisatawan melalui data akomodasi.
Pariwisata menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Nepal. Pada 2023, sektor ini menyumbang sekitar 6,6 persen terhadap produk domestik bruto dan mendukung lebih dari satu juta lapangan kerja. Sepanjang 2024, Nepal mencatat kedatangan sekitar 1,14 juta wisatawan asing, meningkat 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mendekati rekor 2019.
Peluncuran sistem ini sempat tertunda dari jadwal awal September akibat gelombang protes nasional yang memicu pergolakan politik dan kerusuhan di sejumlah wilayah. Meski demikian, arus wisatawan kini kembali pulih meski beberapa negara masih memberlakukan peringatan perjalanan.
Pada tahap awal, sistem akan diterapkan di hotel berbintang di Kathmandu mulai Januari, lalu diperluas ke seluruh Nepal pada Maret. Cakupannya meliputi rumah teh pendakian, agen perjalanan, penukaran mata uang, hingga fasilitas wisata lainnya.
Selain aspek keselamatan, basis data ini juga ditujukan untuk menekan kejahatan yang melibatkan warga negara asing, seperti penipuan daring, peretasan ATM, penyelundupan, hingga pelanggaran masa berlaku visa. Sepanjang tahun lalu, Nepal mendeportasi hampir 500 warga asing karena pelanggaran pidana dan imigrasi.
Dewan Pariwisata Nepal menilai sistem ini akan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas turis yang menyalahgunakan izin tinggal. Pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap mahasiswa asing setelah menemukan sejumlah kasus sertifikat akademik palsu dan perubahan status visa berulang.
Meski menambah kewajiban administratif, pelaku industri pariwisata menilai kebijakan ini sebagai langkah menuju tata kelola yang lebih profesional. Pemerintah berharap sistem pelacakan turis dapat meningkatkan rasa aman bagi pengunjung sekaligus memperbaiki citra Nepal di mata internasional.