Rabu, 28 Januari 2026

10 Ribu Tenaga Kerja Bakal Terserap Pengembangan Pariwisata Hutan Bowosie


  • Selasa, 01 Maret 2022 | 19:07
  • | News
 10 Ribu Tenaga Kerja Bakal Terserap Pengembangan Pariwisata Hutan Bowosie Foto ilustrasi: pixabay.com

ARAHDESTINASI.COM: Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memastikan pengembangan pariwisata di Hutan Bowosie Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur bakal menyerap 10.000 ribu tenaga kerja.

"Perhitungan tersebut berdasarkan hasil analisa BPOLBF atas kebutuhan pembangunan dan kebutuhan daya tarik wisata yang akan tersaji di kawasan seluas 400 hektare," kata Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina seperti dilansir Antara, Selasa (1/3).

Pengembangan Hutan Bowosie menurut Shana berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan menekan tingkat pengangguran di Labuan Bajo, Flores dan NTT pada umumnya.

Kini BPOLBF bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersiap mengembangkan empat zona pengembangan pariwisata di lahan seluas 400 hektare Hutan Bowosie untuk menghadirkan kawasan pariwisata berkelanjutan, berkualitas, dan terintegrasi di Labuan Bajo.

Kawasan tersebut tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia (SDM), tapi juga suplai hasil pertanian dan peternakan, hasil kerajinan tangan, atraksi budaya, dan lainnya.

Pengembangan tersebut dilakukan berdasarkan Perpres Nomor 32 Tahun 2018 dengan penetapan pengelolaan dilakukan oleh Badan Pelaksana yang dibentuk pada 2019.

Di dalamnya diatur tentang perubahan status dan pemanfaatan 400 hektare Hutan Bowosie di Kabupaten Manggarai Barat, dan sedikitnya 136 hektare akan diberikan hak pengelolaan kepada Badan Otorita, dan sisanya dikelola menggunakan skema izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan-Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PBPH-JL) sebagai wisata alam.

Pengembangan kawasan ini, terang Shana, akan dibagi dalam empat zona meliputi cultural district, adventure district, wildlife district, dan leisure district.

Rincian persentase pengembangannya yakni zona budaya 6,51% dari 26 hektare dan 22,23% dari 88,73 hektare. Selanjutnya zona santai 5,13% dari 20,49 hektare dan 10,60% dari 42,32 hektare. Berikutnya zona alam 22,36% dari 89,25 hektare. Terakhir zona petualangan 33,17% dari 132,43 hektare.

Shana menegaskan BPOLBF telah berkoordinasi dengan para ahli untuk bisa memanfaatkan dan juga menjalankan Perpres ini dengan prinsip pembangunan berkelanjutan sehingga kelestarian lingkungan terjaga dan dampaknya bisa dirasakan warga lokal.

Direktur Destinasi BPOLBF Konstant Mardinandus menambahkan, BPOLBF juga melakukan studi hidrogeologi terpadu dan analisis dampak lingkungan sehingga bersama-sama bisa menjamin kelestarian mata air yang ada di kawasan tetap terjaga dan tidak akan mengganggu suplai untuk warga setempat.

Rencana pembangunan pun ditetapkan koefisien dasar bangunan dan luas area terbangun sangat rendah di setiap zona, guna tetap mendukung fungsi ekologi kawasan hutan tersebut.

Berikutnya rencana pembangunan ke kawasan akan dimulai pada Maret 2022 dan akan dilanjutkan pembangunan dan penataan sarana prasarana pariwisata.

Masyarakat di sekitar kawasan Hutan Bowosie sangat mendukung pembangunan tersebut dengan harapan bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.

Kepala Desa Golo Bilas Kecamatan Komodo Paulus Nurung menginginkan pembangunan pariwisata di Labuan Bajo bisa dinikmati semua lapisan masyarakat, termasuk masyarakat desa. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru