Rabu, 28 Januari 2026

Aset Pariwisata Indonesia Terbesar di Asia Tenggara, Namun Jumlah Wisman Kalah dengan Malaysia Dan Thailand, Mengapa?


  • Jumat, 31 Oktober 2025 | 14:15
  • | News
 Aset Pariwisata Indonesia Terbesar di Asia Tenggara, Namun Jumlah Wisman Kalah dengan Malaysia Dan Thailand, Mengapa? Foto ilustrasi: Pixabay

JAKARTA, ARAHDESTINASI.COM - Kekuatan pariwisata Indonesia tidak hanya terletak pada jumlah destinasi, tetapi pada keunikan dan daya saing yang mampu menarik wisatawan global. Pesan ini mengemuka dalam forum Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2026 yang digelar Forwaparekraf di Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Menurut Yudhistira Setiawan, SVP Corporate Secretary InJourney, Indonesia memiliki aset pariwisata terbesar di Asia Tenggara, tetapi jumlah kunjungan wisatawan masih tertinggal dibandingkan Thailand dan Malaysia.

“Setiap destinasi harus punya positioning yang jelas dan berdaya saing. Kami fokus pada pengembangan lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) — Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Likupang,” ujarnya.

InJourney menyiapkan lima pilar pengembangan destinasi: atraksi dan program, konektivitas, infrastruktur dan amenitas, pariwisata berkelanjutan, serta people and hospitality. Tujuannya, menciptakan ekosistem pariwisata yang inklusif, produktif, dan ramah lingkungan.

Dukungan investasi juga menjadi pilar utama. Menurut Deputi Bidang Industri dan Investasi Pariwisata, Rizki Handayani, target investasi pariwisata hingga 2029 mencapai Rp350 triliun, dengan lebih dari setengahnya diarahkan ke 10 destinasi prioritas.

Fokusnya bukan lagi sekadar membangun fasilitas, tetapi menghadirkan nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Selain itu, arah pariwisata Asia Pasifik kini bergerak menuju tren wisata berbasis alam, budaya autentik, wellness, dan kuliner.

Survei JLL Indonesia terhadap 1.000 responden Generasi Z dan milenial menunjukkan bahwa wisatawan muda lebih mencari pengalaman yang bermakna dibanding sekadar mengunjungi destinasi populer.

“Mereka ingin dekat dengan alam dan komunitas lokal. Namun, konektivitas, infrastruktur, dan akses digital masih menjadi tantangan di banyak daerah,” ujar Vivin Harsanto, Executive Director dan Head of Strategic Consulting JLL Indonesia.

“Kita harus memastikan Indonesia tidak hanya indah, tapi juga mudah diakses dan value for money.”

Forum ITO 2026 menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci masa depan pariwisata Indonesia. Pertumbuhan ekonomi tetap penting, tetapi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan pelestarian lingkungan.

Acara ini terselenggara berkat dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Artotel Group, Artotel Harmoni Jakarta, Indofood, Kokola, Tekko, dan InJourney Hospitality.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru