Senin, 09 Februari 2026

Bukan Sekadar Lezat, Ini Arti Simbolik Menu Wajib Imlek


 Bukan Sekadar Lezat, Ini Arti Simbolik Menu Wajib Imlek Ragam hidangan yang biasa disajikan saat perayaan Imlek (ANTARA/ Nabila Charisty)

PERAYAAN Imlek selalu identik dengan suasana hangat keluarga, warna merah menyala, serta meja makan yang penuh dengan hidangan istimewa. Bagi masyarakat Tionghoa, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan bahasa simbol yang menyimpan doa untuk tahun yang baru.

Di Indonesia, tradisi ini tetap hidup lintas generasi. Dari rumah keluarga hingga restoran peranakan, sajian Imlek selalu hadir sebagai perekat kebersamaan. Di balik kelezatannya, setiap menu membawa pesan tentang harapan, kemakmuran, dan umur panjang.

Makanan sebagai Doa yang Dimakan

Pakar kuliner Indonesia keturunan Tionghoa, William Wongso, menjelaskan bahwa bahan pangan dalam tradisi Imlek dipilih bukan karena mahal, melainkan karena maknanya.

“Di Tiongkok, setiap bahan punya arti yang terkait dengan tulisan dan bunyi katanya. Misalnya apel, dalam Mandarin disebut ping guo. Kata ping berarti kedamaian,” ujarnya.

Itulah sebabnya meja makan Imlek selalu diatur penuh perhitungan. Ada yang melambangkan rezeki mengalir, ada yang bermakna keharmonisan keluarga, hingga doa agar hidup tetap utuh tanpa terputus.

Tradisi serupa juga terasa di House of Tugu, Kota Tua Jakarta, sebuah bangunan bersejarah yang memadukan jejak budaya Nusantara, Tionghoa, dan Belanda. Setiap Imlek, tempat ini menghadirkan menu peranakan Jawa pesisir sebagai bentuk akulturasi rasa dan tradisi.

“Spesial di Tahun Kuda Api, kami mengangkat menu Peranakan Jawa Pesisir agar nuansa Imlek terasa lebih dekat dengan budaya lokal,” kata Putri, event manager House of Tugu.

1. Yu Sheng, Salad Pembuka Penuh Harapan

Tak ada Imlek tanpa yu sheng. Hidangan salad berisi ikan mentah, sayuran segar, pomelo, kacang, dan wijen ini disantap bersama melalui tradisi Lo Hei—mengangkat makanan setinggi mungkin dengan sumpit sambil mengucap doa.

Setiap komponennya punya arti:

  • Ikan melambangkan kelimpahan sepanjang tahun
  • Pomelo simbol keberuntungan
  • Sayuran hijau mewakili kesehatan
  • Kacang tumbuk bermakna kemakmuran rumah tangga
  • Wijen harapan agar usaha terus berkembang

Semakin tinggi yu sheng diangkat, semakin tinggi pula harapan untuk tahun yang baru.

2. Ikan Utuh, Rezeki yang Tak Terputus

Menu wajib berikutnya adalah ikan utuh, seperti garoupa kukus gaya Cirebon. Ikan disajikan tanpa dipotong karena dipercaya melambangkan keutuhan hidup.“Dalam tradisi Imlek, ikan tidak boleh terpotong. Itu dianggap memutus rezeki,” tegas William Wongso.

Laut dipandang sebagai sumber kehidupan yang luas, sementara ikan dianggap simbol keberanian karena mampu melawan arus. Pesan yang ingin disampaikan sederhana: tetap maju meski tantangan datang bertubi-tubi.

3. Mi Panjang Umur, Doa untuk Hidup Panjang

Di penghujung jamuan, hadir siu mie atau mi panjang umur. Mi disajikan sangat panjang tanpa terputus, ditumis dengan udang, kepiting, dan sayuran.

Ada aturan tak tertulis saat menyantapnya: mi tidak boleh digigit sampai putus. Harapannya, hidup pun mengalir panjang tanpa hambatan.

4. Klappertaart, Manisnya Akulturasi

Sebagai penutup, beberapa keluarga memilih klappertaart—kue warisan Manado-Belanda yang berpadu dengan tradisi Tionghoa. Teksturnya lembut, manis, dan hangat, seolah menutup perayaan dengan rasa syukur.

Menurut William, jumlah menu Imlek biasanya banyak, bisa lebih dari sepuluh. Keragaman itu melambangkan kelimpahan dan keberuntungan.

Imlek, Tradisi yang Menjaga Ingatan

Di House of Tugu, pengalaman Imlek tak hanya soal makan. Pengunjung diajak melihat ornamen naga tahun 1961, foto-foto lama keluarga Oei Tiong Ham “Raja Gula” Semarang, hingga jejak sejarah peranakan yang jarang diketahui.

“Indonesia kaya akan cerita lintas budaya. Bangunan ini menyimpan banyak memori yang penting untuk dirawat,” tutur Putri dikutip dari Antara.

Pada akhirnya, Imlek mengajarkan bahwa makanan adalah jembatan ingatan. Setiap suapan membawa pesan: tentang keluarga yang tetap bersama, tentang rezeki yang diharapkan mengalir, dan tentang hidup yang semoga panjang penuh makna.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kuliner Terbaru