Selasa, 13 Januari 2026

Kimchi, Jang, dan K-Wave: Mengapa Masakan Korea Kian Digemari Dunia


 Kimchi, Jang, dan K-Wave: Mengapa Masakan Korea Kian Digemari Dunia Hidangan di Cálong di London Utara. (Lola Lee/bbc.com)

GELOMBANG Korea tak lagi hanya soal K-pop dan drama. Kini, K-food ikut mencuri perhatian dunia. Dari kimchi hingga gochujang, masakan Korea perlahan tapi pasti menemukan tempat di dapur rumah tangga global, termasuk di Inggris.

Sebuah kelas memasak di London memberi gambaran jelas perubahan ini. Di sebuah apartemen, sekelompok penulis makanan berkumpul mengelilingi meja dapur, mengenakan sarung tangan plastik, dan mulai memijat pasta cabai merah ke lembaran kubis. Aktivitas sederhana itu adalah ritual awal membuat kimchi, ikon kuliner Korea yang kini mendunia.

Kelas tersebut dipandu oleh Judy Joo, koki Korea-Amerika yang dikenal luas lewat layar televisi. Menurut Judy, kimchi bukan sekadar lauk. “Ini fondasi masakan Korea,” ujarnya. Dalam tradisi Korea, kimchi hadir hampir setiap hari, dan resepnya kerap diwariskan lintas generasi layaknya pusaka keluarga.

Antara tawa karena bau cabai yang menempel di kuku dan kepuasan membawa pulang kimchi buatan sendiri, kelas itu menunjukkan satu hal: makanan Korea tak lagi terasa asing. Ia mulai akrab, personal, bahkan menyenangkan untuk dicoba di rumah dilansir dari laman bbc.com.

Dari Pinggiran ke Arus Utama

Beberapa dekade lalu, makanan Korea kerap disalahartikan sebagai bagian dari kuliner Asia Timur lainnya. Di sekolah-sekolah Inggris, hidangan Korea yang dibawa pada acara internasional sering mengundang rasa penasaran—terutama dari para guru—karena dianggap “berbeda” dan belum dikenal.

Namun situasi itu berubah. Restoran Korea tumbuh pesat, rak supermarket mulai diisi produk khas Korea, dan pengalaman langsung menjelajahi kuliner Korea di tanah asalnya mempercepat penerimaan global. Masakan Korea kini tak lagi ingin dibandingkan, melainkan dinikmati dengan identitasnya sendiri.

Dorongan besar datang sejak pemerintah Korea Selatan meluncurkan kampanye Global Hansik pada 2009. Meski sempat menuai kritik, berbagai studi menunjukkan kesadaran global terhadap makanan Korea meningkat signifikan pada dekade berikutnya.

Perkembangan ini berjalan beriringan dengan K-wave. Drama Korea bertema makanan, acara kompetisi kuliner yang mendunia, hingga konten media sosial membuat makanan Korea terasa akrab dan relevan. Di Inggris, minat terhadap Korean BBQ dan pasta gochujang melonjak tajam, sementara kimchi menjadi salah satu produk internasional dengan pertumbuhan tercepat.

Fermentasi yang Jadi Favorit

Salah satu daya tarik utama masakan Korea adalah teknik fermentasi. Ahli gizi menyebut makanan seperti kimchi tak hanya memperkaya rasa dan tekstur, tetapi juga mendukung kesehatan pencernaan dan keseimbangan mikrobioma usus.

Popularitas ini juga tercermin di media sosial. Unggahan tentang makanan Korea meningkat pesat, menandakan rasa ingin tahu publik yang terus tumbuh. Banyak orang tertarik mencoba, lalu jatuh cinta pada rasa yang kompleks: asam, pedas, gurih, dan umami.

Tantangan Memasak Korea di Luar Korea

Di sebuah restoran London Utara, seorang koki Korea menghadapi dilema klasik: bagaimana memasak makanan Korea dengan bahan lokal. Ia menyadari bahwa inti masakan Korea bukan hanya pada hidangan populer, melainkan pada jang—keluarga pasta dan saus fermentasi seperti doenjang, ganjang, dan gochujang.

Namun bahan di Inggris tentu berbeda. Tantangannya bukan meniru secara mentah, melainkan menafsirkan ulang karakter bahan lokal dengan teknik dan filosofi Korea. Prinsipnya sederhana: tidak semua bahan perlu “dipaksakan” dengan gochujang. Seperti masakan Italia yang tak selalu memakai saus yang sama, masakan Korea pun fleksibel dan kontekstual.

Pendekatan inilah yang membuat K-food terasa relevan secara global—otentik, tetapi adaptif.

Baru di Garis Start

Meski popularitasnya melonjak, banyak pelaku kuliner percaya bahwa K-food masih berada di tahap awal ekspansi globalnya. Semakin besar minat publik, semakin mudah pula mendapatkan bahan otentik, dan semakin luas eksplorasi rasa yang bisa dilakukan.

Dari kelas kimchi rumahan hingga restoran modern, K-food membuktikan dirinya bukan sekadar tren sesaat. Ia adalah cerita tentang budaya, fermentasi, dan rasa yang perlahan menemukan rumah baru—di dapur Anda.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kuliner Terbaru