Loading
Kuliner Indonesia kian diminati di Kampung Bali di Hainan, China. (ANTARA/HO-Xinhua)
HAIKOU, CHINA, ARAHDESTINASI.COM - Di sebuah sudut tenang di Xinglong, Hainan, China, aroma serai dan pasta udang menjadi bahasa universal yang menyapa siapa pun yang melangkah masuk ke restoran Istana. Satu denting wajan berbenturan dengan spatula, disusul desis tumisan kangkung dan semburat harum kari yang hangat—seolah membawa kita pada ingatan liburan di Bali.
Restoran ini dimiliki oleh Liang Jinhua, generasi penerus perantau asal Indonesia yang kini menetap di Hainan. Liang tak sekadar menyajikan menu, ia membawa pulang kenangan. Ibunya dahulu mempelajari aneka masakan Bali langsung dari tanah kelahirannya, lalu mewariskannya pada keluarga dan dapur kecil yang kini berkembang menjadi jembatan rasa antara dua budaya.
“Rahasia masakan Indonesia itu ada pada sausnya,” tutur Liang suatu siang. Separuh bumbu dapurnya masih ia datangkan langsung dari Indonesia, sisanya olahan resep turun-temurun yang mencerminkan kesabaran dan tradisi. Begitu menu disajikan, gurih kari udang berpadu santan lembut dan wangi rempah, menghadirkan rasa yang tak hanya sedap—melainkan akrab, intim, menghangatkan.
Tak heran jika restoran ini didatangi tidak hanya wisatawan, tetapi juga warga lokal yang ingin menikmati hidangan hari raya ala Indonesia. Kari menjadi menu perayaan, sementara kudapan manis seperti bola singkong, kue ketan, dan pandan kenyal menjadi suguhan wajib untuk tamu. Suasana interior pun bernuansa Bali: taplak meja berwarna cerah, lukisan karya mahasiswa Indonesia, serta suasana tropis yang mengajak siapa pun duduk lebih lama.
Pernah ada sepasang tamu asal Indonesia yang menitikkan rindu melalui sepiring makan siang. Sebelum pulang, mereka menggenggam tangan Liang sembari berkata, “Ini rasanya rumah.” Kalimat sederhana, namun menjadi bukti bahwa makanan bukan hanya soal lidah—ia menyimpan pulang yang jauh.
Kini, setelah kawasan Hainan membuka jalur bea masuk khusus, semakin banyak rombongan bisnis dan wisatawan Indonesia singgah di Kampung Bali. Restoran dan hotel setempat pun ikut meramu menu Nusantara, menunjukkan bahwa kuliner Indonesia tidak lagi sekadar hadir—ia telah menjadi bagian dari denyut hidup masyarakat Xinglong.
Liang percaya, masakan dapat menyatukan orang lebih cepat dari bahasa mana pun. “Hidangan kami menjaga kenangan para perantau, sekaligus menjadi jembatan persahabatan Indonesia–China,” tutupnya dikutip Antara.