Loading
Foto: Dok Kemendes PDTT
ARAHDESTINASI.COM: Potensi perikanan dan pariwisata di Desa Labuhan Ijuk, Kecamatan Moyohilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sangat besar namun belum dikembangkan. Minimnya fasilitas komunikasi dan internet disebut-sebut sebagai salah satu kendala untuk melakukan promosi.
“Kami sulit ekspos karena sinyal tidak ada. Sinyal telepon genggam tidak ada, apalagi internet. Harus ke kota dulu baru bisa dapat sinyal. Sedangkan untuk membuat profil desa saja harus menginap beberapa hari di Sumbawa,” ujar Sekertaris Desa Labuan Ijuk Bustanil.
Itu sebabnya, Bustanil berharap dana desa terus dikucurkan. Selama ini masyarakat desa sudah sangat merasakan manfaatnya. Pada tahun 2014, tutur Bustanil, kondisi desa sangat memprihatinkan. Ketika matahari mulai terbenam, di saat itu pula air laut perlahan menggenangi pelataran rumah seluruh warga.
Kondisi itu berubah dengan turunnya dana desa. Desa Labuhan Ijuk berhasil membangun infrastruktur yang selama ini diidam-idamkan, mulai dari jalan, talud pantai, rabat beton, dan MCK. "Setelah ada dana desa dari pusat, kami bisa menata desa kami dengan baik. Sehingga pekarangan rumah warga 90 persen sudah tidak masuk air lagi kalau air pasang. Kami juga sudah bisa menata dan mempercantik desa," ungkap Bustanil.
Bustanil berharap, dana desa suatu saat dapat digunakan untuk mendorong pengelolaan hasil tangkap warga, seperti halnya untuk penyediaan sarana pascapanen. Saat ini, dana desa Labuhan Ijuk masih fokus memenuhi kebutuhan infrastruktur.
"Kami berharap agar dana desa jangan sampai berhenti, agar kami ke depannya bisa merasakan sedikit pembudidayaan dari olahan ikan. Masih banyak sekali alat nelayan dan pengolahan yang kami butuhkan di desa ini. Kalau sedang musim ikan, sampai-sampai banyak yang terbuang karena keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan.”
Sebanyak 80 persen warga Desa Labuhan Ijuk, menurut Bustanil berprofesi sebagai nelayan. Mereka biasa berangkat melaut sore dan pulang pagi hari membawa hasil tangkapan. Hasil tangkapan itu kemudian langsung dijual ke pasar dan pengepul.
"Ikan di Desa ini terkenal paling enak. Karena dijamin segar. Ikan yang ditangkap langsung dijual, tidak sampai bermalam. Kami juga tidak ada yang menggunakan bom ataupun potasium. Malah kami minta kepada pemerintah, tolong Pulau Dangar itu diamankan dari potasium dan pengeboman, karena secara turun temurun, di situlah kami mencari ikan,” ujar Bustanil. (*)