Kamis, 29 Januari 2026

Kemeparekraf akan Konsentrasi pada Pengembangan Ecotourism & Wellness Tourism


  • Kamis, 21 Mei 2020 | 21:33
  • | News
 Kemeparekraf akan Konsentrasi pada Pengembangan Ecotourism & Wellness Tourism Foto: Dok Kemenparekraf

ARAHDESTINASI.COM: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) akan konsentrasi pada pengembangan ecotourism dan wellness tourism Pascapandemi COVID-19.

“Pandemi mengubah jenis atau tipe dan pengelolaan destinasi termasuk di dalamnya kegiatan ekowisata. Untuk itu perlu evaluasi dan penataan ulang pola perjalanan ekowisata yang disesuaikan dengan kondisi new normal,” papar Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani baru-baru ini.

Kemenparekraf, tutur Rizki yang akrab dipanggil Kiki, memrediksikan kegiatan wisata berbasis alam atau outdoor paling cepat rebound karena pada dasarnya ecoturism bukan mass tourism tetapi wisata minat khusus. Itu sebabnya, ke depan kita mendukung berkembangnya ekowisata di Indonesia. Kami akan konsentrasi di wisata Ecotourism dan Wellness Tourism,” katanya dalam acara Webinar Ekowisata sebagai panelis Direktur Indonesia Ecotourism Network (INDECON) Ary S. Suhandi, Direktur Via Via Tour & Travel Sry Mujianti, dan dipandu oleh Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf Alexander Reyaan sebagai moderator.

Dalam kesempatan yang sama, Ary S. Suhandi menjelaskan ecotourism, adventure tourism, dan wellness tourism diperkirakan memang akan menjadi produk-produk yang paling diminati pascapandemi. Khususnya untuk kegiatan dengan grup kecil dan aktif seperti interaksi di luar ruangan, kegiatan edukasi alam untuk keluarga, hingga aktivitas yang berkontribusi pada konservasi alam.

Adventure juga berpeluang besar, khususnya kegiatan dalam grup kecil dan aktivitasnya dinamis, seperti trekking, snorkeling, dan diving. Wellness Tourism juga diprediksi cepat rebound. Banyak orang membutuhkan kebugaran pascakerja rutin yang tinggi dengan marketnya adalah orang dari kota,” ujarnya.

Ary menjelaskan, ekowisata merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepedulian wisatawan pada pentingnya menjaga kualitas lingkungan kawasan tempat mereka berwisata, hanya dalam konteks ekowisata perlu penyempurnaan, di mana keuntungan devisa bukanlah kiblat satu-satunya, namun juga memikirkan kelestarian dan pelibatan masyarakat lokal.

“COVID-19 mengajarkan kita banyak hal, selain mitigasi risiko juga salah satunya tentang pentingnya manajemen pengunjung, mengatur kuota, hingga membagi kelompok besar ke dalam kelompok kecil pada saat kegiatan wisata,” ujarnya.

Direktur Via Via Tour & Travel Sry Mujianti mengatakan, pascapandemi akan terjadi pola perjalanan wisata baru. Kombinasi alam dan budaya biasanya menjadi pilihan utama wisatawan. Hal ini akan semakin lengkap apabila didukung dengan interpretasi yang kuat di setiap destinasi.

“Sebagai contoh, untuk klaster Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar) biasanya menghubungkan kota-desa kemudian ada klaster Jawa Timur, mulai dari Malang hingga Banyuwangi. Wisatawan akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan jarak yang relatif dekat atau menempuh waktu lebih singkat,” ujarnya. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru