Selasa, 06 Oktober 2026

Fenomena Blue Fire Berlalu, Akses Pendakian Papandayan Masih Ditutup


  • Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:00
  • | News
 Fenomena Blue Fire Berlalu, Akses Pendakian Papandayan Masih Ditutup Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. (ANTARA/Feri Purnama)

 

GARUT, ARAHDESTINASI.COM — Wisatawan yang ingin menikmati keindahan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, masih harus bersabar. Akses menuju jalur pendakian dan kawasan kawah belum dibuka menyusul fenomena blue fire atau api biru yang sempat muncul di kawasan Gunung Papandayan.

Meski pancaran api biru tersebut kini sudah tidak terlihat secara visual, pembatasan kunjungan tetap diberlakukan demi memastikan keamanan wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, mengatakan wisatawan untuk sementara masih hanya diperbolehkan menikmati kawasan yang masuk dalam zona aman.

“Kalau untuk ke atas, kita masih belum buka. Kita menunggu arahan dari BMKG,” kata Beni kepada wartawan di Garut, Selasa (6/10/2026).

Menurut Beni, wisatawan belum diperbolehkan melanjutkan perjalanan menuju kawasan kawah seperti yang biasanya dilakukan dalam kegiatan pendakian.

Saat kondisi normal, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju sejumlah titik pendakian hingga kawasan yang lebih tinggi. Namun, setelah munculnya fenomena blue fire, akses tersebut sementara dihentikan.

Wisatawan Masih Bisa Menikmati Papandayan dari Zona Aman

Pembatasan bukan berarti seluruh kawasan TWA Gunung Papandayan ditutup untuk wisatawan.

Pengunjung masih dapat datang dan menikmati sejumlah fasilitas serta panorama alam di kawasan bawah yang dinilai masih aman. Namun, perjalanan menuju jalur pendakian dan kawasan kawah belum diperbolehkan.

Beni menyebut pembatasan saat ini membuat wisatawan hanya dapat mencapai kawasan sekitar Pos 4 dan Pos 5.

“Sebetulnya ini masih tetap, cuma memang pengunjung tidak bisa ke atas. Biasanya kan sampai Pos 7, Pos 8 ke atas. Nah, ini sampai Pos 4, 5 di bawah,” ujarnya.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi sambil menunggu perkembangan hasil pemantauan dari instansi teknis terkait.

Bagi wisatawan, kondisi ini memang mengubah pengalaman berkunjung ke Papandayan. Namun, kawasan bawah tetap menawarkan sejumlah daya tarik alam yang dapat dinikmati tanpa harus mendekati area kawah.

Blue Fire Papandayan Sudah Tidak Terlihat

Fenomena blue fire di Gunung Papandayan pertama kali menjadi perhatian setelah munculnya nyala biru di kawasan Kawah Manuk pada September 2026.

Badan Geologi dalam laporan khususnya menyebut fenomena tersebut teramati pada 23–25 September 2026. Berdasarkan pemantauan hingga 26 September, sinar api yang sebelumnya terlihat di area Kawah Manuk sudah tidak teramati lagi. Meski demikian, pemantauan terhadap kawasan tersebut tetap dilakukan secara intensif.

Fenomena blue fire sendiri berkaitan dengan pembakaran material atau gas belerang pada suhu tinggi di area solfatara. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa gas seperti hidrogen sulfida (H₂S) dan sulfur dioksida (SO₂) yang keluar melalui rekahan vulkanik dapat menghasilkan nyala biru ketika mengalami pembakaran.

Badan Geologi juga mencatat adanya dinamika pada bukaan Kawah Manuk sejak 2025. Namun, hubungan langsung antara perubahan struktur kawah dan kemunculan blue fire masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Artinya, hilangnya nyala biru secara kasatmata belum otomatis berarti seluruh kawasan dapat kembali dibuka seperti biasa.

Tetap Ada Pertimbangan Gas Vulkanik

Aspek keselamatan menjadi alasan utama pembatasan masih diberlakukan.

Badan Geologi sebelumnya mengingatkan adanya potensi semburan dan paparan gas vulkanik di sekitar kawasan kawah. Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak melakukan aktivitas maupun menginap dalam radius 500 meter dari bukaan kawah aktif. Pada saat yang sama, tingkat aktivitas Gunung Papandayan tercatat masih berada pada Level I atau Normal.

Karena itu, wisatawan yang berkunjung ke Papandayan tetap perlu mengikuti batas akses yang ditetapkan pengelola dan pemerintah.

Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, tetapi Harus Aman

Fenomena blue fire yang muncul di Papandayan sebenarnya memiliki potensi menjadi daya tarik wisata alam yang unik. Namun, menurut Beni, aspek keselamatan harus menjadi pertimbangan utama sebelum fenomena tersebut dapat diposisikan sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Pemerintah daerah, kata dia, masih melihat kemungkinan pemanfaatan fenomena alam tersebut sebagai daya tarik wisata apabila hasil pengukuran menunjukkan kondisi yang aman dan dapat ditentukan jarak pengamatan yang tepat.

“Kita juga nanti sedang mengukur kalau misalkan itu tidak membahayakan bagi pengunjung, malah jadi salah satu daya tarik untuk wisata, mungkin dengan jarak tertentu,” katanya.

Dengan demikian, fenomena blue fire tidak serta-merta harus dilihat hanya sebagai kendala bagi sektor pariwisata. Jika kondisi kawasan dinyatakan aman oleh instansi berwenang, fenomena alam tersebut justru berpotensi menjadi pengalaman wisata yang berbeda.

Namun untuk saat ini, keselamatan pengunjung tetap menjadi prioritas.

Pendakian dan Camping Masih Belum Dibuka

Manager Operasional TWA Gunung Papandayan, Amin Kaban, membenarkan bahwa pembatasan masih berlaku.

Wisatawan belum diperbolehkan melakukan pendakian maupun berkemah di kawasan atas, termasuk menuju area Salada dan Gober Hood.

“Untuk mendaki dan camping di atas di Salada, dan di Gober Hood belum bisa karena sesuai dengan surat edaran dari BBKSDA,” kata Amin.

Sebelumnya, pembatasan kunjungan memang telah diberlakukan setelah kemunculan blue fire. Pada akhir September, pengelola bahkan melaporkan penurunan jumlah wisatawan secara signifikan karena jalur pendakian dan aktivitas tracking ditutup sementara.

Dalam kondisi normal, kunjungan akhir pekan ke TWA Gunung Papandayan dapat mencapai sekitar 2.000 orang. Setelah pembatasan diberlakukan, jumlah tersebut disebut turun hingga sulit mencapai 500 pengunjung pada akhir pekan.

Wisatawan Diminta Menunggu Informasi Resmi

Hingga Selasa (6/10/2026), pemerintah daerah bersama pengelola dan instansi terkait masih melakukan koordinasi mengenai pembukaan kembali jalur pendakian.

Fenomena blue fire memang sudah tidak terlihat, tetapi pemantauan kawasan tetap berjalan. Badan Geologi juga menegaskan bahwa perkembangan aktivitas Gunung Papandayan akan terus dievaluasi.

Karena itu, wisatawan yang berencana berkunjung sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi dari media sosial atau unggahan pendaki. Perubahan batas akses dapat terjadi mengikuti hasil pemantauan dan rekomendasi terbaru dari instansi berwenang.

Untuk sementara, menikmati Papandayan dari zona yang telah dinyatakan aman menjadi pilihan yang lebih bijak.

Bagi pencinta wisata alam dan pendakian, penutupan sementara ini memang berarti harus menunda perjalanan menuju kawasan atas. Namun, di tengah fenomena alam yang tidak biasa, keselamatan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan wisata.

Papandayan masih bisa dinikmati—hanya saja, untuk sementara, tidak sampai ke kawasan kawah dan jalur pendakian atas.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru