Loading
Show Gangster Syndicate
SUARA deru mesin terdengar dari area Museum Angkut, Kota Batu, Jawa Timur. Sebuah kendaraan bergerak cepat, kemudian berputar dan melakukan aksi drifting di hadapan penonton. Suasana pun berubah menjadi lebih menegangkan sekaligus menghibur.
Secara teknis, drifting menunjukkan keahlian pengemudi yang sudah mendapat lisensi khusus saat melakukan manuver dengan menggeser bagian belakang mobil sambil tetap menjaga kontrol kendaraan.
Atraksi drifting menjadi salah satu pengalaman yang bisa dinikmati pengunjung Museum Angkut. Pertunjukan ini digelar setiap hari pukul 15.00, melengkapi pengalaman wisata yang sebelumnya diisi dengan menjelajahi ratusan koleksi kendaraan dan berbagai zona tematik.
Tak hanya menyaksikan dari sisi arena, sejumlah pengunjung juga bisa terlibat langsung dalam pertunjukan, termasuk dalam show Gangster Syndicate yang digelar di area Gangster Town. Keterlibatan penonton membuat pengalaman berkunjung ke Museum Angkut tidak hanya sekadar melihat-lihat koleksi, tetapi juga memberi kenangan tak terlupakan.
Wisata Edutainment
Museum Angkut sendiri berdiri sejak 9 Maret 2014. Destinasi wisata di Kota Batu ini berdiri di atas lahan hampir 4 hektare, termasuk area parkir, dan memiliki lebih dari 300 koleksi kendaraan yang mencakup transportasi darat, laut, hingga udara.
Guest Relations Officer Museum Angkut, Vicky Andrian, mengatakan keberadaan berbagai pertunjukan merupakan bagian dari konsep edutainment yang diterapkan museum.
"Museum Angkut mengambil tema edutainment, edukasi plus entertainment. Kita bukan cuma mengedukasi masyarakat tentang dunia otomotif, tapi juga dilengkapi dengan berbagai show, supaya tidak bosan," kata Vicky di Museum Angkut, Kota Batu, beberapa waktu lalu.
Konsep tersebut membuat perjalanan di Museum Angkut tidak berhenti pada aktivitas melihat kendaraan. Pengunjung diajak berpindah dari satu zona ke zona lain dengan suasana yang berbeda, sekaligus mendapatkan informasi mengenai kendaraan dan latar sejarahnya.
Lebih dari 300 kendaraan yang ada di Museum Angkut ditempatkan berdasarkan zona dan tema negara. Pengunjung dapat menjumpai Zona Edukasi, Pecinan, Inggris, Gangster, Perancis hingga Hollywood.
Vicky menyebut sekitar 80 hingga 90 persen kendaraan yang ada masih dapat berfungsi dengan baik dan sebagian besar original.
"Kendaraan yang memang dibuat sebagai replika diberi keterangan sebagai replika. Beberapa kendaraan juga dibiarkan dengan tanda-tanda usia, termasuk bagian yang berkarat, untuk mempertahankan kondisi asli," paparnya.
Bagi penggemar otomotif, koleksi Museum Angkut juga menyimpan cerita yang membuat kendaraan tidak hanya menarik dari sisi bentuk. Beberapa kendaraan memiliki kaitan dengan sejarah, termasuk kendaraan yang pernah digunakan dalam konteks kerajaan maupun dunia balap.
Salah satunya adalah Ford GT40 Mk I yang disebut Vicky sebagai mobil yang pernah menjadi juara pertama di Sirkuit Le Mans pada 1964.
Zona-zona Museum Angkut
Selain koleksi kendaraan, suasana setiap zona menjadi bagian lain dari pengalaman pengunjung. Buckingham Palace Zone, misalnya, membawa suasana kerajaan Inggris ke dalam Museum Angkut. Di area ini terdapat replika atau setting Buckingham Palace serta koleksi kendaraan yang berkaitan dengan kerajaan.
Salah satu koleksi yang disebutkan adalah Land Rover Ceremonial milik Queen Elizabeth II saat kunjungan ke Melbourne pada 1963.
Beranjak ke area Hollywood, pengunjung akan menemukan suasana yang berkaitan dengan dunia perfilman dan kendaraan. Area ini memadukan kendaraan, setting film, spot foto, serta elemen hiburan.
Sementara itu, kawasan Pecinan menghadirkan rekonstruksi suasana Pecinan tempo dulu. Deretan ruko atau toko lawas, papan nama dengan gaya ejaan lama, gerobak, becak dan berbagai elemen jalanan digunakan untuk membawa pengunjung merasakan suasana kawasan masa lalu.
Area Hall juga menjadi bagian dari Zona Edukasi Museum Angkut, bersama Hall Plaza, Garbarata dan Runway 27. Area tersebut menjadi salah satu bagian dalam perjalanan pengunjung untuk melihat koleksi transportasi sebelum berlanjut ke berbagai zona tematik.
Museum Angkut memang dirancang bukan sekadar sebagai tempat memajang kendaraan. Koleksi transportasi dihadirkan bersama desain interior dan suasana yang berusaha menghidupkan kembali fungsi kendaraan berdasarkan zaman dan konteksnya.
Setelah menikmati koleksi dan menjelajahi zona tematik, atraksi seperti drifting dan Gangster Syndicate menjadi pelengkap yang membuat kunjungan terasa lebih dinamis.
Museum Angkut juga terus melakukan pembaruan. Vicky mengatakan setiap tahun terdapat wahana, pertunjukan maupun koleksi baru, sehingga pengalaman berkunjung tidak monoton.
Bagi penggemar kendaraan, Museum Angkut pun menawarkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar melihat mobil-mobil kuno. Beragam kendaraan dari berbagai negara, cerita sejarah di balik koleksi, zona tematik dan pertunjukan membuat destinasi ini menjadi salah satu tempat yang dapat mempertemukan unsur edukasi dan hiburan.
Tarif
Museum Angkut menetapkan tarif reguler Rp110.000 yang berlaku sama untuk hari biasa maupun akhir pekan. Tarif tersebut sudah mencakup akses masuk Museum Angkut dan pertunjukan yang menjadi bagian dari pengalaman kunjungan.
Dengan perpaduan koleksi kendaraan, zona tematik dan pertunjukan, kunjungan ke Museum Angkut bukan hanya tentang melihat kendaraan dari masa lalu. Ada cerita sejarah yang bisa dipelajari, suasana berbagai tempat yang bisa dijelajahi, serta aksi drifting yang menghadirkan sensasi berbeda di tengah perjalanan wisata.