Loading
Temple of Heaven Saat Langit Bumi dan Manusia Bertemu di Jantung Beijing Vi
DI tengah padatnya kota metropolitan Beijing, terdapat sebuah ruang sakral yang masih menyimpan napas peradaban kuno, yakni Temple of Heaven, atau Kuil Surga. Kompleks kuil berusia lebih dari 600 tahun itu bukan sekadar bangunan kuno yang berdiri megah, tetapi juga simbol kuat hubungan antara manusia dan langit dalam kosmologi China kuno.
Temple of Heaven dibangun pada tahun 1406 atas perintah Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, penguasa yang juga membangun Kota Terlarang. Kuil Surga menjadi tempat ritual utama bagi para kaisar untuk memohon restu Dewa Langit agar hasil panen rakyat mereka melimpah. Luasnya mencapai 2,73 kilometer persegi, lebih besar dari kompleks istana kekaisaran itu sendiri.
Pada era Kaisar Jiajing (1522-1566), terjadi pemisahan ritus penyembahan. Kompleks kuil ini kemudian hanya digunakan untuk menyembah Dewa Langit, sehingga namanya berubah menjadi Kuil Langit. Sementara itu Kuil Bumi (Ditan) dibangun di utara Kota Beijing.
Pada awal abad ke-18, Kaisar Qianlong (Dinasti Qing) memerintahkan renovasi besar-besaran atas Kuil Langit dengan memperluas altar dan menyempurnakan detail simbolis pada seluruh bangunan.
Kendati dibangun dengan sangat indah, tidak semua orang bisa menikmati keindahan kompleks kuil, karena hanya kaisar dan para menterinya yang diijinkan memasuki kompleks kuil itu.
Kaisar dianggap sebagai sosok pilihan Dewa Langit, sehingga dapat dengan bebas memasuki kompleks kuil dan setiap bangunan di dalamnya.
Namun, setelah kekaisaran runtuh pada tahun 1918, kuil ini akhirnya dibuka untuk publik sebagai taman dan namanya berubah menjadi Kuil Surga.
Harmoni Akustik dan Angka Sembilan
Dulu, seperti dilansir Antara, hanya kaisar dan pejabat tertinggi yang boleh menginjakkan kaki di area ini. Sang kaisar diyakini sebagai Putra Langit (Tianzi), satu-satunya manusia yang diperbolehkan berkomunikasi langsung dengan langit.
Dalam ritus yang berlangsung tiap titik balik matahari musim dingin, kaisar mengenakan jubah upacara, memimpin prosesi suci, dan mempersembahkan doa serta kurban di altar marmer yang menjulang megah: Huanqiutan.
Semua prosesi dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Satu kesalahan kecil bisa dianggap sebagai pertanda buruk bagi seluruh negeri.
Kosmologi China kuno yang percaya bahwa langit berbentuk bulat dan bumi berbentuk persegi, diwujudkan secara fisik dalam desain arsitektural kuil ini. Dinding bagian utara kompleks dibuat melengkung, sementara sisi selatannya bersudut tajam.
Filosofi ini juga terlihat pada bangunan utama seperti Qiniandian - ruang berdoa untuk panen yang menjulang setinggi 38 meter.
Qiniandian dibangun seluruhnya dari kayu, tanpa satu pun paku, dan ditopang oleh 28 pilar raksasa yang melambangkan waktu: 4 musim, 12 bulan, dan 12 jam tradisional China (shichen). Atapnya yang berwarna biru laut melambangkan langit, dilapisi keramik glasir yang berkilau saat terkena cahaya matahari.
Di bagian lain kompleks, terdapat Huangqiongyu, ruang penyimpanan tablet suci Dewa Langit, yang dikelilingi oleh Tembok Gema (Huiyinbi). Fenomena akustik tembok ini memungkinkan seseorang untuk berbisik di satu ujung dan suaranya terdengar jelas di ujung lain. Sebuah pengalaman spiritual sekaligus ilmiah.
Seluruh tata letak Kuil Surga adalah perwujudan fisik dari keyakinan dari masyarakat China kuno bahwa langit itu bulat, sementara bumi berbentuk persegi. Konsep ini terlihat jelas dari bentuk tembok pembatas kompleks kuil, di mana bagian utara terlihat melengkung tanpa sudut (melambangkan langit) dan bagian selatan bersudut siku (melambangkan bumi).
Bangunan utamanya seperti ruang berdoa untuk dewa panen (Qiniandian) dan altar melingkar (Huanqiutan), berbentuk lingkaran sempurna dan berdiri di atas pondasi berbentuk persegi. Warna dominan atapnya adalah biru langit yang terbuat dari keramik glasir yang dipilih khusus untuk menyimbolkan surga.
Qiniandian merupakan jantung dari kuil yang ada di kompleks Kuil Surga. Keseluruhan bangunan tiga tingkat setinggi 38 meter ini dibangun dari kayu tanpa menggunakan paku.
Dengan kubah berwarna biru, di dalamnya terdapat 28 pilar kayu raksasa yang menyangga atap. Pilar-pilar ini terbagi menjadi tiga barisan yaitu; 4 pilar di bagian dalam melambangkan 4 musim, 12 pilar tengah melambangkan 12 bulan, dan 12 pilar terluar melambangkan 12 shichen (satuan waktu tradisional China). Di sinilah kaisar berdoa supaya mendapatkan panen melimpah di setiap musim semi .
Bangunan penting lain yang ada di kompleks kuil ini adalah ruang tablet Dewa Langit atau Huangqiongyu. Bangunan bundar ini berbentuk serupa dengan Qiniandian, hanya saja memiliki ukuran yang jauh lebih kecil. Antara Qiniandian dengan Huangqiongyu dihubungkan oleh Danbiqiao (jalanan batu yang menyerupai jembatan) sepanjang 360 meter.
Ruang Huangqiongyu ini menyimpan lempengan suci milik Dewa Langit. Huangqiongyu dikelilingi oleh tembok gema atau Huiyinbi, yang bila seseorang berbisik di satu ujung, suaranya akan terbawa jelas ke ujung di seberangnya, berkat akustik tembok bundar yang sempurna .
Bangunan lain yang tidak kalah penting adalah panggung altar melingkar yang disebut Huanqiutan yang terletak di ujung selatan kompleks. Altar yang terbuat dari batu marmer ini memiliki tiga tingkat dan menjadi lokasi dari puncak ritual solstis di musim dingin.
Desain dari altar ini sangat sarat dengan simbol angka sembilan, mengingat angka sembilan merupakan angka tertinggi dalam bilangan (Yang) dan melambangkan kekaisaran. Setiap tingkat memiliki anak tangga dan pagar marmer berkelipatan sembilan.
Taman Rakyat
Setelah runtuhnya kekaisaran pada tahun 1918, Temple of Heaven dibuka untuk publik. Sejak saat itu, tempat ini bertransformasi menjadi taman budaya bagi warga Beijing. Setiap pagi, kawasan ini menjadi tempat senam taichi, paduan suara, menari, hingga bermain bulu tangkis di bawah rindangnya pohon-pohon cemara yang telah berusia ratusan tahun.
Pada tahun 1998, UNESCO menetapkan Temple of Heaven sebagai Situs Warisan Dunia. Kini, lebih dari 20 juta orang mengunjungi tempat ini setiap tahunnya, menyaksikan keagungan masa lalu yang masih berdenyut dalam kehidupan modern.
Temple of Heaven bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah mahakarya arsitektur, refleksi dari filsafat hidup, serta saksi bisu hubungan manusia dengan alam semesta.
Dari jejak kaki kaisar yang berdoa memohon panen, hingga langkah-langkah ringan para lansia yang berolahraga di pagi hari, kuil ini tetap hidup, menyatukan langit, bumi, dan manusia dalam harmoni abadi.