Rabu, 28 Januari 2026

Dua Balapan Unggas Ini Seru Ditonton


 Dua Balapan Unggas Ini Seru Ditonton Foto: Syaiful Anwar/Genpi Madura

ARAHDESTINASI.COM: Setiap daerah di Indonesia itu memang unik. Berbagai permainan rakyat bisa ditemui di mana-mana. Sebagian kecil masih lestari, sebagian sudah langka, bahkan banyak yang sudah menghilang. Dari yang masih lestari, coba tengok dua jenis balapan unggas yang kerap mengundang kagum dan tawa.

Karapan/Barapan AyamPulau Madura dan Pulau Sumbawa punya tradisi permainan unik yang biasa disebut Karapan Ayam atau di Sumbawa dikenal dengan nama Barapan Ayam. Seperti halnya karapan sapi, ayam-ayam itu sudah mendapat pelatihan. Pemiliknya punya cara dan jadwal latihan agar ayam-ayam mereka yang berbakat ikut lomba, bisa terus meningkatkan kemampuan terbang.

Di Pulau Madura, tepatnya di Pantai Lombang, Desa Lombang, Sumenep, setiap Hari Minggu bisa disaksikan Karapan Ayam. Unik, karena pemilik ayam melepas ayam mereka sekitar 100 meter dari bibir pantai. Alhasil ayam yang sudah dilatih berlomba terbang menuju daratan. Ayam yang paling cepat mencapai garis finish menjadi pemenang. Dengan suara riuh, sebagian terbang hingga garis finish, sebagian lagi terpaksa harus berenang menuju tepian.

Di Pulau Sumbawa, barapan ayam dilakukan di darat. Dua ekor ayam tampil bersama joki yang memagang tongkat sabut untuk menggiring ayam lari lurus hingga garis finish. Tidak mudah, karena ayam-ayam cenderung lari berpencar ke samping. Di sinilah keahlian joki terlihat.

Masyarakat penghobi jenis barapan ini, punya ayam yang mendapat perlakuan khusus. Biasanya sebelum bertanding dilakukan ritual khusus, memandikan ayam dengan air beras, dan saat bertanding dipasang beberapa aksesoris.

Pacu ItiakPacu Itiak bisa dijumpai di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh kota, Sumatra Barat. Konon, Pacu Itiak ini sudah ada sejak 1927. Ada juga yang mengatakan sudah ada sejak sebelum tahun itu. Pacu itiak bermula dri kebiasaan petani mengusir itik-itik yang kerap makan hasil pertanian yang belum dipanen. Saat diusir, itik-itik itu terbang dan menjadi hiburan tersendiri.

Dari situlah muncul ide Pacu Itiak. Para pemilik itik memiliki jagoan masing-masing yang sudah dilatih terbang. Jadi jangan heran jika ada itik yang bisa terbang hingga 2 km. Biasanya jarak Pacu Itik dibagi dalam beberapa kategori, 8.000 meter, 1.000 meter, 1.200 meter, 1.400 meter, dan 1.600 meter. Saat berlomba, pemilik itik memegang itik dengan kedua tangan tinggi-tinggi, kemudian melepas supaya terbang.

Lomba tradisional yang juga digemari wisatawan nusantara dan mancanegara ini mendapat perhatian pemerintah Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Di dua daerah itu ada gelanggang khusus untuk melakukan Pacu Itiak. Lomba besar-besaran biasanya diadakan setiap sepanjang bulan Juli, biasanya dua hari dalam sepekan. (*)

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Jawa Tengah Terbaru