Loading
Mangrove Sungai Tiram Bintan dikembangkan dengan konsep silvofishery dan wisata menanam mangrove, memadukan konservasi ekosistem dengan budidaya perikanan berkelanjutan. (Foto: klook)
TANJUNGPINANG, ARAHDESTINASI.COM – Kawasan mangrove Sungai Tiram di Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, mulai menjelma menjadi harapan baru bagi masa depan ekonomi hijau Kepulauan Riau. Tidak sekadar hutan bakau, area ini kini dilirik untuk dikembangkan sebagai pusat budidaya perikanan sekaligus destinasi wisata berkelanjutan.
Gagasan tersebut menguat setelah pecinta mangrove asal Jepang, Naoto Akune, menawarkan konsep silvofishery—metode ramah lingkungan yang memadukan pelestarian mangrove dengan aktivitas budidaya ikan, udang, dan kepiting. Model ini memungkinkan ekosistem tetap terjaga, namun masyarakat tetap memperoleh manfaat ekonomi.
“Kawasan mangrove di Sungai Tiram sangat potensial menjadi contoh budidaya berkelanjutan. Ekosistemnya terjaga, nilai ekonominya pun tumbuh lewat sistem silvofishery,” ujar Akune di Bintan, Selasa (10/2/2026).
Akune hadir dalam kegiatan penanaman mangrove yang digelar Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional 2026. Menurutnya, silvofishery bukan konsep baru. Metode tradisional ini telah lama diterapkan di Jepang dan sejumlah negara Asia Tenggara, terbukti mampu menyeimbangkan kepentingan lingkungan dan produksi perikanan.
Dalam rancangan yang ia tawarkan, 60–80 persen area tetap dipertahankan sebagai hutan mangrove, sementara 20–40 persen lainnya dimanfaatkan untuk parit atau kolam budidaya. Mangrove berperan sebagai biofilter alami yang menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, sekaligus melindungi pesisir dari abrasi.
“Dengan keberadaan mangrove, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan. Budidaya jadi lebih sehat, biaya lebih efisien, dan tentu lebih ramah lingkungan,” jelasnya.
Dukungan dari Komunitas Lokal
Ketua Umum KJK Ady Indra Pawennari menyebut konsep ini sangat relevan bagi Sungai Tiram yang memiliki kekayaan ekologis tinggi. Menurutnya, daerah tersebut bisa menjadi percontohan pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di Kepri.
“Model seperti ini sudah sukses di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Nilai ekonominya terasa, kelestarian mangrove juga tetap terjaga. Masyarakat bisa menikmati manfaat langsung tanpa merusak alam,” kata Ady.
Wisata Menanam Mangrove Mulai Dikembangkan
Sejalan dengan ide silvofishery, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri meluncurkan pendekatan baru bernama Planting Tourism atau wisata menanam mangrove. Konsep ini mengubah kegiatan konservasi menjadi pengalaman wisata berbasis ekologi yang bernilai ekonomi.
Kepala BPDAS Kepri Haris Sofyan Hendriyanto menjelaskan program tersebut merupakan kolaborasi lintas sektor bersama Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepri.
“Kami ingin wisatawan tidak hanya datang menikmati pemandangan, tetapi juga ikut berkontribusi menanam mangrove. Ada pengalaman, ada edukasi, dan ada dampak nyata bagi lingkungan,” ujarnya.
Saat ini telah terpetakan sembilan lokasi pionir di Bintan untuk pengembangan wisata menanam mangrove. Beberapa di antaranya melibatkan kelompok masyarakat seperti Pengudang, Gudi Farm, dan komunitas Akar Bumi di Pandang Tak Jemu. Paket wisata pun mulai disiapkan bersama biro perjalanan dan sektor perhotelan.
“Kepri punya dua kekuatan utama: wisatawan dan mangrove. Kalau keduanya dipadukan, pembangunan kehutanan bisa berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah,” tutur Haris dikutip Antara.
Dengan kolaborasi berbagai pihak, Sungai Tiram berpeluang menjadi wajah baru pengelolaan mangrove di Indonesia—bukan hanya sebagai benteng ekologis, tetapi juga sumber kesejahteraan masyarakat pesisir.