Loading
Foto ilustrasi: Photo by Erik Odiin on Unsplash
ARAHDESTINASI.COM: Bahasa seringkali menjadi kendala ketika seseorang memutuskan akan melakukan perjalanan wisata. Hasil survei yang dilakukan Booking.com memperkuat kondisi tersebut. Lebih dari seperempat (28%) responden setuju bahwa bahasa dapat menahan mereka dari merencanakan perjalanan. Satu dari lima (20%) merasa takut tersesat tanpa bisa berbicara bahasa lokal. Wisatawan juga mengkhawatirkan kesulitan menemukan akomodasi karena kendala bahasa (34%), dan lebih dari seperempat merasa cemas tentang situasi asing ketika bepergian (26%).
Ketika responden yang terlibat dalam penelitian ditanya apa yang akan menghilangkan hambatan perjalanan dan kecemasan untuk perjalanan di masa mendatang, faktor utama yang disebut adalah pilihan akomodasi yang bagus (37%), ulasan positif dari wisatawan lain (35%), dan keinginan dapat mengajukan pertanyaan dan petunjuk dalam bahasa lokal (26 % dan 23%), serta keinginan bisa memesan makanan favorit mereka (22%).
Terkait kendala tersebut, Booking.com sedang merintis kemitraan unik di AS, Jepang, China, Taiwan, Hong Kong, Inggris, Kanada, Selandia Baru, dan Australia dengan ili, perangkat penerjemahan offline tercepat di dunia. Kemitraan itu akan lebih membantu wisatawan untuk mengatasi masalah perjalanan yang disebabkan kendala bahasa.
Limitless TravelerBooking.com, melakukan penelitian terhadap 20.500 wisatawan global untuk mengungkap hambatan dan kegelisahan yang mencegah orang memanfaatkan setiap perjalanan menjadi pengalaman tanpa batas. Selain bahasa, hasil dari penelitian tersebut menunjukkan satu dari lima orang (20%) tidak pernah benar-benar merasa bebas ketika berlibur, dan hanya satu dari 10 responden (10%) yang merasa benar-benar bebas atau berhasil menjadi limitless traveler.
Meski demikian, ada keinginan kuat di antara responden untuk menjadi limitless traveler. Survei yang dilakukan Booking.com menunjukkan sebesar 44%. Lebih dari tiga perempat (78%) ingin memanfaatkan setiap kesempatan dalam perjalanan, sehingga tidak akan ada penyesalan.
Penelitian Booking.com juga menunjukkan hampir dua pertiga (62%) orang ingin merasakan budaya baru, lebih dari setengah (51%) ingin mencicipi makanan lezat lokal, sepertiga (39%) ingin merasakan tinggal di tempat baru, dan 33% ingin bertemu orang baru yang bisa memperkaya nilai-nilai perjalanan mereka.
Solo Traveler
Satu dari dua (55%) wisatawan berpikir bahwa hal terbaik dari berwisata adalah mendapat pengalaman perjalanan yang unik. Mereka ingin mencoba ikut suatu petualangan wisata yang belum pernah mereka lakukan untuk mendorong keinginan mereka menjadi limitless traveler Beberapa hal yang muncul terkait keinginan tersebut adalah sebagai berikut:
|
Volun Tourism |
39% |
|
Petualangan Gourmet |
38% |
|
Perjalanan Misteri |
38% |
|
Perjalanan Sabatikal (riset, karya akademik, dll) |
36% |
|
Perjalanan menelusuri sejarah leluhur |
36% |
Survei ini juga menunjukkan bahwa keinginan bepergian dan mendapat pengalaman tanpa batas tidak hanya didominasi generasi muda, meski lebih dari seperempat (27%) berasal dari Generasi Z (usia 18 hingga 24 tahun).
Baby Boomers (55 hingga 64 tahun) ingin mendapatkan petualangan dan pengalaman lebih dari perjalanan yang mereka lakukan, dan seperlima (20%) berniat untuk pergi dalam perjalanan backpacking atau hiking dan satu dari lima (18%) merencanakan perjalanan darat. Ada juga peningkatan dalam perjalanan solo. Sekitar (40%) dari generasi baby boomers telah melakukan perjalanan solo pada tahun lalu, dan seperlima(21%) berencana untuk melakukan itu.
Lebih dari setengah (52%) wisatawan mengaku sering menggunakan teknologi saat bepergian. booking.com menyediakan teknologi untuk menghubungkan calon wisatawan dengan destinasi wisata melalui website maupun mobile apps. Tersedia 43 bahasa dan 130 ribu destinasi di 227 negara, dan lebih dari 147 juta ulasan. Kemitraan unik dengan illi perangkat penerjemah offliner tercepat di dunia juga menjadi terobosan baru. Booking.com, seperti dilansir PRNewwire, merupakan pemimpin dalam teknologi digital yang terus mengeksplorasi bagaimana teknologi inovatif dapat membantu wisatawan mengatasi tekanan perjalanan dan memungkinkan mereka menemukan pengalaman lebih banyak. (*)