Rabu, 28 Januari 2026

Lamin Adat di Perbatasan Ternyata Menarik Kunjungan Wisman


  • Sabtu, 10 November 2018 | 11:52
  • | News
 Lamin Adat di Perbatasan Ternyata Menarik Kunjungan Wisman Foto ilustrasi: Twitter @angtekkhun

ARAHDESTINASI.COM: Lamin Adat Seputan (Marang Seputan) di Kampung Long Penaneh I, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur, kawasan perbatasan dengan Malaysia, ternyata sering dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman).

"Wisman yang datang ke Lamin kebanyakan dari Eropa seperti dari Jerman, Perancis, dan Belanda. Ada pula turis dari Inggris, Swedia, Australia, bahkan dari Yunani juga ada," ujar guide setempat, Izhar Arifin seperti dirilis laman Antara.

Lamin atau rumah adat dari Kalimantan Timur itu berukuran 23x25 meter dengan tinggi kolong mencapai 3 meter, dan sketinggianeluruhnya sekitar 10 meter mulai lantai di atas kolong hingga atap bagian tengah. Lamin itu dibangun dalam dua tahun anggaran, yakni pendanaan gabungan antara dana desa (DD) dari APBN dan Alokasi Dana Kampung (ADK) dari APBD Mahakam Ulu.

Pembiayaan pertama tahun 2015 dialokasikan dari ADK senilai Rp200 juta lebih. Dana sebesar itu hanya untuk pengadaan material. Kemudian tahun 2016 dianggarkan dari DD senilai Rp490 juta untuk pembangunannya dan melengkapi sejumlah bahan yang masih kurang, sehingga total anggaran yang terserap mencapai Rp690 juta.

Ezi, panggilan akrab Izhar yang juga Bendahara Pemerintah Kampung Long Penaneh I, Kecamatan Long Apari, mengatakan, biaya sebesar itu tergolong murah karena dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat. Jika tidak, maka total biayanya dipastikan bisa di atas Rp1 miliar karena sebagian besar material yang digunakan adalah kayu ulin.

Delapan tiang utuh pohon ulin yang digunakan, katanya, ditarik dari hutan setempat secara bergotong royong. Kayu itu memiliki diameter 130 meter untuk tiang yang paling besar dan berdiameter 90 untuk tiang utama yang paling kecil. Sementara panjang masing-masing tiang utama sekitar 12 meter. Dari panjang total 12 meter itu, panjang yang ditancapkan ke tanah mencapai 2 meter sehingga tinggi tiang mulai batas tanah hingga ke atas mencapai 10 meter.

Sekretaris Kampung Long Penaneh I Daniel Jivan mengaku terjadi perubahan signifikan di kampungnya sejak dikucurkannya DD dan ADK, di antaranya dulu jalanan berdebu saat musim kemarau dan becek saat musim hujan, kini tidak lagi karena telah dilakukan semenisasi jalan dan gang.

Selain itu, pihaknya juga membangun sejumlah infrastruktur lain diantaranya Posyandu Balita dan Posyandu Lansia, sehingga melalui kader Posyandu yang juga mendapat insentif dari DD dan ADK, tingkat kesehatan balita dan lansia menjadi terkontrol.

"Sekarang kami sudah meminta berbagai infrastruktur pendukung, jalan sudah bagus, fasilitasi kesehatan dan pendidikan tingkat kampung sudah cukup, maka DD dan ADK untuk tahun-tahun mendatang kami arahkan pada pengembangan ekonomi. Apalagi BUMDes kami sudah terbentuk sehingga melalui lembaga ini dan melalui kelompok tani diyakini mampu mendongkrak ekonomi," ujarnya. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru