Loading
Foto ilustrasi: pixabay.com
ARAHDESTINASI.COM: Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) periode Januari hingga Juli 2023 sudah mencapai 6,3 juta atau sudah melampaui target batas bawah yang ditetapkan sebesar 6 juta kunjungan.
“Kita optimistis bisa mencapai target batas atas kunjungan wisman sebesar 8,5 juta orang. Dibandingkan dengan tahun lalu, jumlahnya tumbuh 196%,” papar Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kementerian Pariwisata dan REkonomi Kreatif (Kemenparekraf) Nia Niscaya dalam The Weekly Brief with Sandi Uno Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (25/9).
Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf Agustini Rahayu yang hadir dalam acara tersebut juga optimistis angka kunjungan wisman akan mencapai target batas atas yang ditetapkan. Apalagi, katanya, dalam dua bulan terakhir, jumlah kunjungan wisman perbulannya sudah lebih dari satu juta. “Kalau lihat trennya bisa mencapai batas atas, mudah-mudahan tidak akan ada gangguan. Kami optimistis,” ujarnya.
Baca juga:
Pariwisata Indonesia Cetak Pertumbuhan Positif, Kemenparekraf Genjot Promosi & Event DaerahHingga bulan Juli lanjut Ayu, trend wisman yang datang ke Indonesia masih didominasi negara-negara tetangga. Tercatat yang masuk dalam lima besar adalah Malaysia, Australia, Singapura, Tiongkok, dan Timor Leste. “Memang ada kecenderungan untuk bepergian ke negara terdekat dulu,” paparnya.
Data BPS mencatat, kunjungan wisman asal Malaysia pada Januari hingga Juli 2023 mencapai 1.033.662 , Australia sebesar 779.475 kunjungan, disusul Singapura sebesar 777.863, Tiongkok 382.581, dan Timor Leste 420.240 kunjungan.
Ditanya tentang jumlah kunjungan wisman asal China yang masih jauh dari angka sebelum Covid-19, Nia mengatakan, jumlah kunjungan wisman asal China di semua negara memang belum pulih. Banyak faktor yang mempengaruhi, di antaranya mahalnya harga tiket dan adanya kampanye berwisata di dalam negeri saja.
“Sama dengan kita, di China ada imbauan berlibur di dalam negeri saja. Selain itu, di seluruh dunia kondisi penerbangan belum pulih. Kemarin saat pandemi sempat hibernasi, kru banyak beralih pekerjaan, dan sekarang bengkel pesawat masih antre, hingga suply berkurang. Ini yang jadi salah satu penyebab masih mahalnya harga tiket pesawat yang akhirnya mempengaruhi tingkat bepergian,” terang Nia. ***