Loading
Pulau Lengkuas Belitung. (Arah Kita/Lintang)
BELITUNG, ARAHDESTINASI.COM – Kabupaten Belitung dikenal dengan pantai-pantainya yang memukau, namun geliat pariwisata daerah ini belum sepenuhnya pulih dan bersaing di pasar internasional. Meski potensi wisata alamnya besar, pengembangan sektor ini dinilai masih terkendala oleh konektivitas.
Dalam upaya membangkitkan kembali sektor pariwisata pascapandemi COVID-19, Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung menggelar familiarization trip (famtrip) yang melibatkan para agen perjalanan dari berbagai kota, seperti Bali, Palembang, Yogyakarta, dan Jakarta.
"Kami ingin mereka melihat langsung potensi wisata Belitung dan bisa menyusun paket perjalanan, khususnya dengan konsep beyond Belitung. Jadi Belitung bisa menjadi destinasi lanjutan yang menarik bagi wisatawan," ujar Adi Pebfriatna, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Belitung.
Daya Tarik Alam dan Wisata Premium
Para peserta famtrip menilai Belitung sangat potensial untuk menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pulau Leebong, Pantai Tanjung Tinggi, Bukit Peramun, Batu Mentas yang menjadi habitat tarsius khas Belitung, hingga island hopping menjadi daya tarik utama.
Allan Karim dari Penjor Bali Wisata menyebut Pulau Leebong sebagai destinasi premium yang sangat layak dijual untuk pasar wisatawan mancanegara, (wisman) baik untuk individual, pasangan honeymoon, keluarga, hingga wedding. Ia juga menyoroti potensi Bee Farming di Palebo, meski akses jalannya perlu diperbaiki.
I Wayan Suberata dari Indonesia Travel Semesta mengungkapkan kekagumannya pada Pulau Leebong. “Ini benar-benar private island yang ideal. Liburan di sini terasa eksklusif dan meninggalkan kesan mendalam,” ungkapnya.
Baca juga:
Sekilas Pariwisata BelitungIa juga merekomendasikan Batu Mentas dan Bukit Peramun sebagai destinasi petualangan yang cocok untuk pasar Rusia. Menurutnya, paket wisata premium bisa dikombinasikan dengan menginap di hotel berbintang lima seperti Sheraton dan Pulau Leebong di akhir perjalanan.
Ratih Puspasari dari Lovina Tour Jogja menambahkan, Belitung bisa menjadi alternatif gathering perusahaan. Ia yakin destinasi ini memiliki daya tarik untuk pasar Eropa, Taiwan, dan China di segmen wisatawan premium.
Tantangan: Konektivitas
Meski memiliki potensi besar, Allan menyebut Kabupaten Belitung perlu banyak berbenah, terutama dalam hal konektivitas. Dia menekankan perlunya tiga poin yang berjalan seiring, yakni kenektivitas, regulasi, dan produk.
“Ketiganya harus berjalan seiring. Konektivitas diperbanyak, kebijakan sportif, dan produk dibenahi. Di Geopark Belitung contohnya, beberapa jembatan sudah rusak. Pilihan tempat makan menurut saya perlu diperbanyak, juga tempat membeli oleh-oleh,” ujar Allan.
Masalah konektivitas juga disinggung Ratih. “Butuh konektivitas yang lebih baik, direct flight selain Jakarta,” tuturnya.
Dia juga berharap, titik diving dan snorkeling diperbanyak, begitu juga dengan pilihan kuliner.
Wayan Suberata juga menyoroti masalah konektivitas. Dari Bali katanya, tamu harus ke Jakarta terlebih dahulu, menginap, baru ke Tanjung Pandan
“Yang kita pertimbangkan repotnya tamu packing dan wasting time-nya itu,” ujarnya.
Wayan juga menyoroti masalah infrastruktur, terutama untuk tamu-tamu disabilitas yang marketnya lumayan besar.
Terkait konektivitas, Adi Pebfriatna mengakui sebagai kendala yang kini dihadapi Kabupaten Belitung. Saat ini dalam satu hari hanya ada 4 hingga 5 penerbangan, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sebelum pandemi Covid-19.
Dengan kondisi penerbangan seperti sekarang, acara perusahaan yang dulu marak dilakukan satu hari di Belitung jadi tidak memungkinkan.
“Sebelum pandemi banyak yang pagi datang mengadakan acara perusahaan hingga siang atau sore hari, kemudian acara bebas, malamnya kembali ke Jakarta,” papar Adi.
Saat ini, tambahnya, pemerintah Kabupaten Belitung terus berusaha melakukan berbagai upaya agar frekuensi penerbangan bisa terus bertambah.