Loading
Ritual Caci Penti, sebuah pertunjukan adu ketangkasan dengan cambuk dan tameng yang sarat makna filosofis, sekaligus menjadi magnet pariwisata berkelanjutan. Ritual ini tidak hanya disaksikan tetapi juga diikuti oleh wisatawan mancanegara. (Foto: Arahkita/Beni Lehot)
RUTENG, ARAHDESTINASI.COM - Kampung adat Ruteng Pu’u di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, menjadi salah satu destinasi wisata budaya paling ikonik di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain deretan rumah adat tradisional yang masih terjaga, kawasan ini juga dikenal dengan Ritual Caci Penti—sebuah pertunjukan adu ketangkasan dengan cambuk dan tameng yang sarat makna filosofis, sekaligus menjadi magnet pariwisata berkelanjutan.
Atraksi Budaya yang Menyulut Antusiasme Wisatawan
Dalam gelaran terbarunya, arena Caci Penti mempertemukan tuan rumah Ruteng Pu’u dengan penantang dari Kampung Nteweng, Desa Leong, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur. Iringan gong dan gendang membuat setiap ayunan cambuk terasa magis, menciptakan atmosfer yang memikat ribuan penonton.
Baca juga:
DPR Sahkan Revisi UU Kepariwisataan: Dorong Pariwisata Berkelanjutan dan Berbasis MasyarakatMeski arena sempat padat, panitia berhasil menjaga jalannya acara tetap tertib. Yoseph, salah satu peserta dari kubu penantang, bahkan mengapresiasi penyelenggaraan kali ini. “Pertunjukan di sini jauh lebih rapi. Salut untuk panitia,” ujarnya.
Turis Mancanegara Turut Meramaikan
Baca juga:
Kemenparekraf Perkuat Pariwisata Berkelanjutan lewat The 1st Indonesia Quality Tourism ConferenceMenariknya, ritual ini tidak hanya disaksikan tetapi juga diikuti oleh wisatawan mancanegara. Ruben, turis asal Barcelona, Spanyol, tampil percaya diri di arena mengenakan busana khas Caci. Dengan tameng di tangan, ia sukses menangkis beberapa serangan lawan.
“Very amazing! Saya hanya mengikuti irama musik dan langsung merasa siap,” kata Ruben penuh antusias. Aksinya disambut sorakan meriah penonton, termasuk istrinya, Estela, yang terpukau. Kehadiran wisatawan seperti Ruben menegaskan bahwa Caci Penti mampu menjadi pengalaman budaya yang mendunia.
Filosofi di Balik Caci PentiBagi masyarakat Manggarai, Caci Penti bukan sekadar hiburan, tetapi tradisi sakral yang mengandung nilai mendalam:
Nilai-nilai inilah yang menjadikan Caci Penti relevan sebagai atraksi wisata berkelanjutan: menjaga budaya tetap hidup, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Caci Penti sebagai Ikon Wisata Berkelanjutan
Keterlibatan wisatawan lokal hingga mancanegara memperlihatkan bahwa Caci Penti telah melampaui batas tradisi, menuju panggung internasional. Potensi ini menjadikannya ikon wisata budaya Manggarai yang mampu bersaing di kancah global.
Dengan pelestarian yang konsisten, Ritual Caci Penti tidak hanya menjaga identitas budaya Manggarai, tetapi juga menjadi jembatan antara tradisi dan pariwisata berkelanjutan—di mana masyarakat lokal tetap menjadi penjaga utama warisan leluhur, sambil menikmati manfaat dari geliat pariwisata.
Peluang Ekonomi Kreatif dari Tradisi
Lebih jauh, pertunjukan Caci Penti juga membuka peluang ekonomi kreatif di Ruteng Pu’u. Wisatawan yang datang tidak hanya menyaksikan ritual, tetapi juga berbelanja souvenir khas Manggarai, mencicipi kuliner lokal, hingga menginap di homestay milik warga. Kehadiran sektor pendukung ini memperkuat konsep pariwisata berkelanjutan, karena manfaat ekonomi langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar tanpa menghilangkan nilai sakral dari tradisi.