Sabtu, 11 Juli 2026

Bukan Hanya Kuliner, Gastronomi Disebut Jadi Masa Depan Pariwisata Indonesia


 Bukan Hanya Kuliner, Gastronomi Disebut Jadi Masa Depan Pariwisata Indonesia Bukan Hanya Kuliner, Gastronomi Disebut Jadi Masa Depan Pariwisata Indonesia. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHDESTINASI.COM – Kuliner kini tak lagi dipandang sekadar pelengkap perjalanan wisata. Di Indonesia, gastronomi justru mulai menempati posisi strategis sebagai penggerak pariwisata sekaligus ekonomi masyarakat. Di balik setiap hidangan khas daerah, tersimpan identitas budaya, cerita lokal, hingga peluang usaha yang mampu memberikan manfaat jangka panjang.

Karena itu, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengajak seluruh pelaku industri pariwisata memperkuat kolaborasi untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

"Kita tidak hanya berfokus pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas dan berkelanjutan serta memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat," ujar Ni Luh dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Menurutnya, gastronomi memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar pengalaman menikmati makanan. Gastronomi merepresentasikan identitas budaya setiap daerah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, mulai dari petani, nelayan, UMKM kuliner, hingga industri perhotelan.

Karena itu, pemerintah mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk terus bersinergi dalam merancang berbagai program yang mampu meningkatkan kualitas industri pariwisata nasional.

Tren Pariwisata Indonesia Masih Positif

Optimisme tersebut didukung oleh meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, meski dunia masih menghadapi berbagai tantangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari hingga Mei 2026 Indonesia mencatat 6,07 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 7,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara juga menunjukkan tren positif. Dalam lima bulan pertama 2026 tercatat 523,22 juta perjalanan, naik 2,86 persen dibandingkan Januari–Mei 2025 yang mencapai 508,67 juta perjalanan.

Data tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk berwisata masih terus tumbuh, sekaligus menjadi peluang besar bagi pengembangan wisata berbasis budaya dan kuliner di berbagai daerah.

Nusantara Food & Hotel Expo Jadi Ruang Kolaborasi

Dalam kesempatan yang sama, Ni Luh mengapresiasi penyelenggaraan Nusantara Food & Hotel Expo 2026 sebagai wadah yang mempertemukan pelaku industri makanan, minuman, kuliner, dan hospitality dalam memperkuat rantai nilai pariwisata Indonesia.

Menurutnya, sinergi yang terbangun melalui pameran tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem pariwisata yang semakin inovatif, inklusif, dan siap menghadapi persaingan pasar global.

Nusantara Food & Hotel Expo 2026 berlangsung pada 9–12 Juli 2026 di Hall 3 ICE BSD City, Tangerang Selatan.

Pameran ini menghadirkan 12 kategori industri, mulai dari daging dan unggas, produk susu, makanan laut, makanan beku, kopi dan teh, bahan pangan, roti dan kue, produk organik, minuman, perlengkapan perhotelan, peralatan HOREKA, hingga teknologi operasional hotel.

Ni Luh berharap pameran tersebut tidak hanya menjadi ajang bisnis antarpelaku usaha (B2B), tetapi juga melahirkan berbagai inovasi dan kolaborasi yang mampu memperkuat seluruh rantai pasok industri pariwisata Indonesia.

"Saya berharap Nusantara Food & Hotel Expo bukan hanya menjadi ajang pertemuan B2B, tetapi juga melahirkan inovasi dan kolaborasi yang luar biasa serta memberikan manfaat hingga ke rantai pasok," tutupnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kuliner Terbaru