Loading
Wisatawan mancanegara dan peserta Festival Lamaholot 2026 melakukan penanaman mangrove di Desa Kolontobo, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/HO-ASITA NTT)
LEMBATA, ARAHDESTINASI.COM – Festival Lamaholot 2026 menunjukkan bahwa sebuah festival budaya tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman wisata yang berdampak langsung bagi masyarakat. Digelar di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 1–4 Juli 2026, festival ini mengusung konsep wisata berbasis masyarakat yang kini semakin diminati wisatawan dunia.
Di tengah tren pariwisata global yang semakin mengutamakan keberlanjutan, Festival Lamaholot menghadirkan pengalaman autentik melalui budaya lokal, lingkungan, hingga keterlibatan langsung masyarakat. Konsep inilah yang dinilai menjadi kekuatan baru pariwisata NTT.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT, Oyan Kristian, mengatakan konsep community based tourism yang diusung Festival Lamaholot sangat sesuai dengan perkembangan pasar wisata saat ini.
Menurutnya, wisatawan kini tidak lagi hanya mengejar panorama indah, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana perjalanan mereka memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
"Tren pariwisata dunia sekarang adalah sustainable tourism. Wisatawan bukan hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat," ujarnya saat dihubungi dari Kupang, Senin (6/7/2026).
Wisatawan Ingin Pengalaman yang Autentik
Festival Lamaholot menghadirkan beragam aktivitas yang memungkinkan wisatawan merasakan kehidupan masyarakat Lamaholot secara langsung.Mulai dari belajar menenun kain tradisional, mengenal kehidupan kampung adat, menikmati kuliner lokal, hingga menyaksikan berbagai tradisi budaya yang masih terjaga.
Menurut Oyan, pengalaman seperti ini memiliki nilai lebih dibanding sekadar mengunjungi objek wisata.
Selain memberikan kesan mendalam bagi wisatawan, aktivitas tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Warga memperoleh pendapatan dari jasa atraksi budaya, kuliner, minuman khas, hingga penjualan produk ekonomi kreatif.
Mangrove Jadi Wisata Edukasi
Festival Lamaholot juga memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan dapat menjadi bagian penting dari pengembangan destinasi wisata.
Salah satu contohnya adalah pengembangan kawasan mangrove sebagai objek wisata edukasi yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan kawasan pesisir, tetapi juga diajak menanam mangrove serta mempelajari berbagai jenis dan manfaatnya bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat pesisir.
Menurut Oyan, pengalaman seperti ini sangat diminati, terutama oleh wisatawan mancanegara yang mencari aktivitas unik dan bermakna.
Wisata Berkelanjutan Jadi Masa Depan Pariwisata NTT
Oyan menilai pengembangan destinasi saat ini tidak cukup hanya memperbaiki akses jalan, fasilitas, dan atraksi wisata.
Yang tidak kalah penting adalah menghadirkan pengalaman yang autentik sehingga wisatawan benar-benar merasakan budaya lokal.
"Kalau ada hal yang autentik dan unik di destinasi itu, mereka senang untuk melakukannya langsung," katanya dikutip Antara.
ASITA NTT pun menyatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memasarkan produk wisata berkelanjutan dari NTT kepada pasar yang lebih luas.
Ia juga berharap Festival Lamaholot memiliki jadwal pelaksanaan yang tetap setiap tahun agar pelaku industri wisata memiliki waktu lebih panjang dalam menyusun dan memasarkan paket perjalanan.
Menurutnya, kepastian kalender event akan memudahkan promosi kepada agen perjalanan, baik di dalam maupun luar NTT, yang memiliki pasar wisata berbasis pengalaman dan keberlanjutan.
Masuk Karisma Event Nusantara 2026
Festival Lamaholot merupakan salah satu dari tiga agenda di Nusa Tenggara Timur yang berhasil masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.Festival ini juga menjadi bagian dari 125 event unggulan nasional yang dipilih oleh Kementerian Pariwisata sebagai ajang promosi destinasi unggulan Indonesia.