Rabu, 28 Januari 2026

Bubuk Cabe Superpedas, Oleh-Oleh Unik dari Desa Hiyung


 Bubuk Cabe Superpedas, Oleh-Oleh Unik dari Desa Hiyung Foto: Dok Kemendes PDTT

ARAHDESTINASI.COM: Indonesia memang kaya. Setiap daerah punya produk unggulan yang jika dikelola dengan benar bisa menjadi sumber pendapatan luar biasa bagi masyarakat, sekaligus melengkapi kekayaan pariwisata suatu daerah.

Tengok saja Desa Hiyung di Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Desa itu memiliki bubuk cabe yang luar biasa pedas di bawah merek Bubuk Cabe Hiyung. Ada tiga rasa yang ditawarkan, original, udang, dan bawang. Soal rasa sudah pasti nendang. Cocok dijadikan oleh-oleh atau barangkali bisa mengilhami wisatawan untuk ikut memasarkan produk Desa Hiyung ke daerah masing-masing.

Cabe rawit asal Desa Hiyung memang dikenal punya keunggulan rasa pedas yang luar biasa. Menurut pengujian dan publikasi yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian Kalimantan Selatan, cabe Hiyung memiliki tingkat kepedasan dari senyawa capcaisin hingga 94,5 ribu part per million atau ppm. Kandungan tersebut setara dengan 17 kali lipat lebih pedas dibandingkan dengan cabai rawit pada umumnya.

Cabe rawit (capsicum frutescens) merupakan tanaman yang tumbuh subur di sekitar garis khatulistiwa pada ketinggi antara 0-500 mdpl, namun masih dapat tumbuh pada ketinggian 1000 mdpl meskipun pembentukan buahnya menjadi tidak maksimal. Salah satu sentra produksi cabe rawit di Kalimantan Selatan adalah Desa Hiyung.

Sekitar 85% masyarakat di desa itu menggantungkan hidup pada usaha tani cabe. Budidaya cabe dimulai pada tahap penyemaian biji, kemudian dikepal setelah usia 2 minggu dan selanjutnya ditanam pada tanah yang sudah diolah. Secara garis besar, budidaya tanaman cabe rawit di Desa Hiyung mengikuti tahapan sebagai berikut :

Persiapan dan masa tanamKebutuhan benih pada luasan satu hektar sebesar 0,5 kg yang disemai pada bawah naungan untuk menghindari sinar matahari langsung. Biji ditanam pada media tanam dalam sebuah polybag tersebut sedalam 0,5 cm. Bibit yang dihasilkan bisa dipindahkan ke lahan terbuka setelah berdaun 4-6 helai atau kira-kira berumur 1 hingga 1,5 bulan. Pemindahan dilakukan dengan cara menyobek polybag. Bedengan untuk tanaman dibuat dengan lebar 100-110 cm, tinggi 30-40 cm, lubang tanam berukuran 50-60 cm.

PemeliharaanPenyiraman dilakukan bila tanah terlihat mengering agar tetap berada dalam kelembaban pada kisaran 70%. Pemupukan dilakukan secara berkala setiap bulan sekali setelah pemupukan pertama. Mulsa untuk menutup tanah di sekitar tanaman bisa diganti dengan bahan organik berupa jerami dan potongan batang jagung halus. Hama dan penyakit tetap harus diantisipasi meskipun cabe rawit dikenal memiliki daya tahan relative tinggi.

PemanenanPemanenan dapat dilakukan pada 3,5 s.d. 4 bulan terhitung sejak tanam hingga mencapai umur 6 bulan atau lebih. Produksi bisa mencapai 30 ton per hektar, dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya.

Melalui pengaturan pola tanam ini, Desa Hiyung bisa menghasilkan produksi cabe rata-rata 200 kg. Puncak panen terjadi pada bulan Agustus, sebagian hasil panen diolah menjadi bubuk cabe. Cara konvensional pada masa lalu dimulai dengan membuang tangkai dan mencucinya sampai bersih. Bagian yang rusak dan busuk dibuang.

Untuk mempercepat proses pengeringan, cabe dibelah membujur. Cabe kering dicelupkan ke dalam larutan sulfit panas dan diaduk-aduk selama 3 menit. Setelah diangkat dan ditiriskan, cabe beserta bijinya segera dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering. Suhu pengeringan tidak boleh lebih dari 75 °C, dilakukan sampai kadar air kurang dari 9%. Cabe kering digiling sampai halus dengan menggunakan blender.

Astra Group telah memberikan bantuan alat berupa oven dan penggilingan cabe (hammer mill) sehingga bisa memproduksi bubuk cabe dalam jumlah yang lebih banyak, lebih cepat dan butiran yang lebih halus. Serbuk cabe dari Desa Hiyung sempat didaftarkan dengan merk Abon Cabe yang kemudian berubah menjadi Bon Cabe. Merek tersebut akhirnya ditarik karena ternyata sudah dipegang pihak lain berdasarkan data Kemenkumham. Saat ini masih mengurus sertifikasi halal sebelum memproduksi bubuk cabe dengan merek bubuk Cabe Hiyung, dengan 3 jenis rasa yaitu original, udang dan bawang.

Pengelolaan Rumah Produksi Abon Cabe Hiyung rencananya akan diserahkan pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah dibentuk pada tahun 2018 ini. BUMDes juga akan didorong membantu pengembangan usaha bengkel milik salah satu pengurus Karang Taruna yang saat ini sudah memproduksi mesin pengisian bahan bakar Pertamini. Jumlah unit mesin yang diproduksi memang relative masih terbatas, namun jangkauan pasarnya sudah mencapai Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tabalong. Dari Dana Desa, telah dianggarkan sebesar enam puluh juta rupiah untuk pengembangan usaha BUMDes ini. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Jawa Tengah Terbaru