Rabu, 21 Januari 2026

Wae Rebo, Kampung Adat Misterius yang Wajib Dijelajahi


 Wae Rebo, Kampung Adat Misterius yang Wajib Dijelajahi Foto: IG @baratdaya_

ARAHDESTINASI.COM: Buat yang belum pernah ke Kampung Adat Wae Rebo, barangkali sudah saatnya mempertimbangkan untuk mendatangi tempat indah dan penuh kearifan lokal itu. Berinteraksi dengan penduduk setempat, memandang pagi saat kabut datag menyelimuti rumah adat, dan memandang langit malam yang dipenuhi taburan bintang.

Sudah pasti asyik dan menjadi pengalaman tak terlupakan. Kampung Adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur itu memang mempesona. Sejak mendapat penghargaan Asia Pasific Award for Culture Heritage Conservation dari UNESCO pada 2012, Wae Rebo membuat banyak orang penasaran. Wisatawan nusantara dan mancanegara terus berdatangan. Belum lama ini Wae Rebo mulai tersentuh internet yang jaringannya dipasang Kemendes PDTT. Sebelumnya, untuk mendapatkan sinyal wisatawan dan warga harus berjalan kaki turun gunung selama 2 jam dan menempuh perjalanan darat selama 1 jam menggunakan motor/mobil.

Keunikan Wae ReboApa sih uniknya Wae Rebo sehingga sangat layak diperjuangkan untuk dikunjungi? Berikut beberapa fakta dan keunikan seputar Wae Rebo yang kerap disebut kampung adat yang masih memancarkan aura misterius.

1. Pemandangan di Kampung Adat Wae Rebo sangat asri dan indah. Lokasinya terpencil dengan kelestarian alam yang masih terjaga. Di pagi dan sore hari, kabut turun menyelimuti pucuk rumah hingga tanah. Di malam hari saatnya menyaksikan langit malam yang dipenuhi jutaan bintang.

2. Masyarakat Wae Rebo sudah terbiasa menerima tamu lokal dan asing. Para tamu yang datang biasanya memberitahu penduduk dengan cara memukul kentongan. Mereka kemudian akan menyambut sesuai dengan adat yang berlaku, termasuk lantunan doa agar leluhur melindungi tamu-tamu yang datang.

3. Di Wae Rebo, masyarakatnya masih kuat memegang adat. Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa nenek moyang penduduk Wae Rebo berasal dari Minangkabau. Setelah berpindah-pindah, mereka akhirnya menetap di lokasi sekarang, kawasan Pegunugungan Poncoroko dengan ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut.

4. Rumah adat di Wae Rebo disebut Mbaru Niang, berbentuk kerucut setinggi kurang lebih 5 meter, beratap daun lontar yang dilapisi ijuk. Jumlah rumah di Wae Rebo selalu dijaga hanya 7 unit. Setiap rumah dihuni enam hingga delapan keluarga. Mbaru Niang terdiri dari lima lantai, pertama untuk tempat tinggal, dan kemudian diikuti dengan fungsi sebagai penyimpan bahan makanan, benih, cadangan makanan saat kekeringan, hingga bagian teratas untuk menghormati leluhur. Wisatawan yang ingin menginap bisa meminta izin untuk tinggal bersama di lantai satu Mbaru Niang.

5. Setiap bulan November masyarakat Wae Rebo menyelenggarakan upacara adat Penti, sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang sudah didapat, dan doa untuk memohon berkat di masa yang akan dijalani. Saat upacara berlangsung, seluruh masyarakat mengenakan pakaian adat dan melakukan berbagai ritual, termasuk memainkan berbagai seni dan budaya khas Wae Rebo

6. Bertani dan berkebun jadi mata pencaharian para lelaki di Wae Rebo. Kaum perempuan membersihkan, mengolah, hasil kebuh mau pun pertanian, dan di waktu senggang mereka menenun.

AksesUntuk mencapai Wae Rebo memang butuh perjuangan. Namun, rasa lelah pasti akan terbayar. Labuan Bajo biasanya menjadi titik awal perjalanan menuju Wae Rebo. Perjalanan bisa dilakukan dengan menyewa mobil atau pun menggunakan angkutan umum.

Rute pertama Labuan Bajo menuju Pertigaan Pela, Ruteng, dengan lama perjalanan sekitar 4 hingga 5 jam. Di Pela, wisatawan bisa beristirahat sejenak sebari menunggu angkutan umum menuju Desa Denge yang menjadi titik awal perjalanan menerobos hutan menuju ke Wae Rebo. Angkutan umum dari pertigaan pela menuju Desa Denge disebut oto, truk yang sudah dimodifikasi untuk megangkut penumpang. Lama perjalanan menuju Denge sekitar 4 jam.

Sesampai di Desa Denge bisa memutuskan langsung naik, atau menginap terlebih dahulu. Ada beberapa home stay yang bisa digunakan untuk menginap. Dari Denge, dilanjutkan dengan jalan kaki dengan medan cukup berat selama kurang lebih 3 hingga 4 jam, tergantung kekuatan fisik. Untuk yang satu ini, sebaiknya menggunakan jasa pemandu wisata lokal dari Denge. Siap berpetualang? (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Jawa Tengah Terbaru