Rabu, 28 Januari 2026

Bupati Sumba Barat Berupaya Sederhanakan Pesta Adat


  • Senin, 22 Oktober 2018 | 10:22
  • | News
 Bupati Sumba Barat Berupaya Sederhanakan Pesta Adat Foto: arahdestinasi.com

ARAHDESTINASI.COM: Budaya dan adat istiadat menjadi kekuatan utama yang dimiliki Sumba Barat dan Pulau Sumba secara keseluruhan. Karena itu, pelestarian kampung adat menjadi salah satu fokus pembangunan dan pemikiran yang terus dilakukan di Sumba Barat. “Kalau budaya kita hilang, habis sudah kita,” ujar Bupati Sumba Barat Agustinus Niga Dapawole.

Kekhawatiran muncul karena adanya kebakaran yang menimpa beberapa desa, di antaranya Desa Tarung yang terletak di tengah Kota Waikabubak. Tidak ada yang tahu dari mana api berasal. Namun saksi mata bercerita, api tiba-tiba muncul dari bawah tanah dan membakar perkampungan. “Percaya atau tidak, ada hal-hal yang tak masuk akal, tapi terjadi. Masyarakat kami percaya, itu merupakan teguran dari leluhur karena ada pelanggaran adat,” tutur Agustinus.

Setelah terbakar, rumah-rumah adat tidak bisa begitu saja didirikan kembali. Banyak ritual yang harus dilakukan, dan terberat adanya pemotongan kerbau, kambing, sapi, dan hewan lain di setiap tahapan. Itu sebabnya, pembangunan rumah adat tidak bisa dengan cepat dilakukan, karena masyarakat harus menguatkan keuangan terlebih dahulu agar bisa memenuhi persyaratan.

Setiap ritual adat di Sumba seperti upacara kematian, terang Agustinus, juga selalu diikuti dengan pemotongan hewan yang jumlahnya tidak sedikit dan akhirnya berdampak pada askpek kehidupan lainnya. Itu sebabnya, dia berniat menyederhanakan jumlah pemotongan hewan. “tetap dilakukan tapi jumlah hewan yang dipotong disesuaikan dengan kemampuan. Tidak memaksakan diri, sehingga akhirnya mempengaruhi kesejahteraan di bidang lain,” katanya.

Agustinus sudah meminta untuk membahas peraturan daerah yang bisa membantu mengembalikan budaya yang sudah tidak sesuai atau melenceng karena faktor gengsi. “Sekarang ini populasi ternak kita sudah jauh menurun. Cari kerbau dengan ukuran tanduk panjang sudah sulit. Satu kerbau bertanduk panjang harganya bisa ratusan juta rupiah. “Ada unsur pemborosan yang dipaksakan. Butuh kesadaran dan peraturan, untuk pelestarian dan mengembalikan pada tempatnya,” pungkasnya. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru