Loading
Tanjung Mahera / Foto: Dok Dinas Pariwisata SBD
ARAHDESTINASI.COM: Terbakarnya Kampung Adat Gurusina di Kecamatan Jarebu'u, Kabupaten Ngada, Flores, NTT mengejutkan banyak pihak. Itu bukan kali pertama kampung adat yang sudah berusia ratusan tahun dan kaya budaya, adat, serta kearifan lokal terbakar.
Di Sumba misalnya, Kampung adat Tarung, Sodan, Ratenggaro, dan masih banyak lagi pernah terbakar. Tidak semuanya bisa dibangun kembali seperti semula. Bahkan banyak keluarga yang sampai sekarang belum mampu membangun kembali rumah adatnya, sehingga ditinggal begitu saja atau akhirnya dibangun dengan campuran material masa kini.
“Sangat menyedihkan. Seharusnya pemerintah melakukan standarisasi penanganan kebakaran. Seperti halnya tsunami yang sudah memiliki SOP (standar operasional prosedur) tentang apa dan bagaimana yang harus dilakukan masyarakat, jika rumah adatnya terbakar,” ujar Ng Sebastian, owner Incito.vacation yang kerap membawa wisatawan mancanegara ke Indonesia Timur.
Selama ini, tutur Sebastian, tidak ada yang mengurusi kampung adat. Tidak ada yang menganggap itu aset. Padahal kampung adat jelas memiliki nilai adat, budaya, seni, dan kearifan lokal begitu tinggi. “Masyarakatnya seakan dibiarkan mengurus diri sendiri. Kalau siang, biasanya di kampung adat hanya tersisa orang tua dan anak-anak. Kaum lelaki pergi mencari nafkah ke ladang, berburu dan sebagainya. Jika terjadi kebakaran, orang tua dan anak-anak kebingungan, sementara api dengan cepat menyambar atap-atap ilalang.”
Sebastian berharap, pemerintah lebih memperhatikan kampung adat. Khusus untuk mengurangi kerusakan akibat kebakaran, sudah selayaknya jika diperhatikan standarisasi listrik, ketersediaan alat pemadam kebakaran di setiap rumah adat, jalur evakuasi, dan pelatihan serta kampanye sadar kebakaran. (*)