Rabu, 28 Januari 2026

Pemerintah akan Tata Ulang Fungsi Bandara Internasional


  • Senin, 17 Agustus 2020 | 17:29
  • | News
 Pemerintah akan Tata Ulang Fungsi Bandara Internasional Foto: Dok Arah Destinasi

ARAHDESTINASI.COM: Pemerintah tengah mengkaji ulang keberadaan dan jumlah bandara yang akan menjadi hub internasional utama.

“Kalau tidak salah sekarang ada 32, dssetelah dilakukan evaluasi, cukup 6 atau 7 saja yang menjadi hub internasional primer. Tapi itu sedang kita kaji, kemungkinan bulan depan sudah selesai. Kita akan benahi, jangan sampai hub kita justru di Singapura atau Kuala Lumpur. Harusnya di tempat kita sendiri,” papar Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam webinar Transportasi untuk Merajut Keberagaman belum lama ini.

Dulu, papar Luhut, pemerintah membangun bandara-bandara internasional sebagai hub. Namun setelah dikaji ulang, lebih efektif jika jumlahnya dipersempit. “Kemungkinan melalui Jakarta, Medan, Yogyakartam Bali, Surabaya, Makassar, Manado. Tapi sekali lagi, studinya masih dilakukan,” tegasnya.

Dirjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Novie Riyanto memberi penjelasan lebih detail mengenai rencana efektivitas bandara yang akan menjadi hub premier. Dia menegaskan, Kementerian Perhubungan akan menata ulang rute penerbangan dan bandar udara internasional yang akan dijadikan hub.

“Kita akan ubah strategi, bandara internasional yang sudah ada akan kita tata ulang, mana yang menjadi hub premier dan mana yang menjadi sub-hub,” katanya.

Seperti yang dijelaskan Menko Maritim dan Investasi, Novie juga menginformasikan bahwa saat ini studi tentang hub internasional tengah dilakukan, termasuk melakukan koordinasi dengan stakeholeder, BUMN, airline, sehingga konsepnya akan jauh lebih matang.

Dia mencontohkan Bali akan dijadikan superhub pariwisata.Bali akan terkoneksi dengan Australia, Afrika, Erpa sebelah utara dan Amerika Serikat.

“Saat ini kapasitas bandara di Bali sekitar 35 hingga 37 juta penumpang. Kita akan kembangkan hingga 50 juta penumpang, dengan prediksi akan efektif digunakan hingga 2040.

“Jadi bandara di Bali nantinya bukan hanya berfungsi di pariwisata saja, tetapi juga pendukungnya dalam arti kebutuhan logistik. Sebab jika jumlah wisatawan meningkat, maka kebutuhan logistik juga akan meningkat,” ujar Novie. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru