Loading
Foto: Gerd Altmann from Pixabay
ARAHDESTINASI.COM: International Air Transport Association (IATA) merilis prospek keuangan industri transportasi udara global yang menunjukkan bahwa maskapai penerbangan diperkirakan akan kehilangan US$ 84,3 miliar pada tahun 2020 dengan margin laba bersih -20,1%.
Pendapatan tahun 2020 akan turun 50% menjadi US$ 419 miliar dari US$ 838 miliar pada 2019. Pada tahun 2021, kerugian diperkirakan turun menjadi US$ 15,8 miliar karena pendapatan naik menjadi US$ 598 miliar.
Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac, mengatakan secara finansial tahun 2020 menjadi tahun terburuk dalam sejarah penerbangan.
“Tahun ini, rata-rata kerugian perhari sekitar US$ 230 juta. Berdasarkan perkiraan jumlah penumpang sebesar 2,2 miliar, maskapai penerbangan akan kehilangan US$ 37,54 per penumpang. Itu sebabnya penting mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah,” katanya dalam keterangan pers tertulis belum lama ini.
Juniac berharap tidak akan ada gelombang kedua COVID-19 yang bisa lebih merusak. Dengan asumsi skala optimistis, dia menyebutkan bahwa kunci pemulihan adalah implementasi langkah-langkah yang sudah disepakati melalui Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk menjaga keselamatan penumpang dan kru.
Dengan bantuan pelacak kontak yang efektif, pemerintah bisa lebih percaya diri membuka perbatasan. “Ini bagian penting dari pemulihan ekonomi, karena 10% PDB dunia berasal dari sektor pariwisata dan sebagian besar tergantung pada perjalanan udara,” papar de Juniac.
Saat negara-negara di dunia menutup perbatasan untuk mencegal penyebaran COVID-19, industri penerbangan jatuh pada titik terendah. Pada bulan April, perjalanan udara global turun 95% dibandingkan dengan tahun 2019.
Saat ini, terang de Juniac, ada indikasi bahwa lalu lintas udara perlahan membaik. Meskipun demikian, tingkat lalu lintas (dalam Revenue Passenger Kilometer) untuk tahun 2020 diperkirakan akan turun 54,7% dibandingkan tahun 2019. Jumlah penumpang kira-kira akan turun menjadi 2,25 miliar, atau kira-kira sama dengan tahun 2006.
Di tengah berbagai kesulitan, harga bahan bakar membantu atau meringankan dari sisi pengeluaran operasional. Pada 2019, bahan bakar jet rata-rata US$ 77 / barel sedangkan rata-rata perkiraan untuk tahun 2020 adalah US$ 36,8. Bahan bakar diperkirakan mencapai 15% dari keseluruhan biaya, dibandingkan dengan 23,7% pada 2019. (*)