Loading
Foto: pesona.travel
ARAHDESTINASI.COM: Lead Scientist The Nature Conservancy (TNC) Indonesia Rizya Adiwijaya menyarankan pemerintah mulai menyiapkan kajian wisata berkelanjutan Kepulauan Derawan-Sangalaki yang berlokasi dekat dengan Ibu Kota Baru.
“Lokasi kerja kita ada yang di Derawan. Kemungkinan besar ini jadi destinasi wisata unggulan juga karena dekat dengan Ibu Kota Baru,” kata Rizya di Jakarta, baru-baru ini seperti dilansir Antara.
Perkembangan Ibu Kota Baru menurut dia, akan berdampak pada jumlah kunjungan wisata ke Kepulauan Derawan-Sangalaki. Dampak lingkungannya juga pasti ada, karena itu perlu mulai dilakukan kajian daya dukung daya tampung untuk wisata berkelanjutan.
“Wakil Bupati Berau Agus Tantomo tertarik mengembangkan wisata selam di Kepulauan Derawan-Sangalaki. Saya bilang siapkan dulu segalanya, termasuk mengkaji carrying capacity agar tahu berapa sih kapasitas tampung wisatawan di sana. Kalau terlalu padat tentu juga tidak bagus,” katanya.
Community specialist TNC Indonesia Rynal Mayfadli mengatakan bahwa TNC memiliki beberapa program di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Salah satunya Aksi Inspiratif Warga Untuk Perubahan (Sigap) di wilayah terestrial selain juga mendukung terbentuknya Taman Pesisir Kepulauan Derawan.
Inisiasi taman pesisir itu telah dimulai sejak pertengahan 2012 oleh berbagai pihak, di antaranya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Berau, Pusat Kajian dan Inovasi Perikanan dan Sumberdaya Pesisir Universitas Mulawarman dan The Nature Conservancy.
Taman Pesisir Kepulauan Derawan adalah proses lanjutan dari Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) yang telah diinisiasi oleh Pemkab Berau sejak 2005. Pemerintah setempat berupaya melakukan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut sebagai upaya melestarikan ekosistem di sana untuk tujuan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat.
Taman Pesisir Kepulauan Derawan terdiri dari Pulau Derawan, Sangalaki, Kakaban dan Maratua yang juga merupakan salah satu pulau terdepan Indonesia di Kalimantan Timur, dan masuk dalam Segitiga Terumbu Karang Dunia. (*)