Kamis, 29 Januari 2026

Masyarakat & Wisatawan Dilarang Mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas


  • Jumat, 26 Juli 2019 | 22:05
  • | News
 Masyarakat & Wisatawan Dilarang Mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas Foto: Dok BNPB

ARAHDESTINASI.COM: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melarang masyarakat dan wisatawan yang akan turun mendekati dasar Kawah Ratu dan Kawah Upas. Wisatawan juga tidak diperkenankan menginap di dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam komplek Gunung Tangkuban Perahu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga meminta masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Larangan dan imbauan itu dikeluarkan pascaerupsi Gunung Tangkuban Perahu pada Jumat sore (26/7). Meski situasi telah kondusif, pengelola kawasan wisata telah menutup wilayah wisata gunung yang berada di wilayah administrasi Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat.

Pantauan(PVMBG) menginformasikan wilayah yang terdampak sekitar radius 500 meter dari kawah. Hingga kini tidak ada informasi mengenai korban jiwa maupun luka-luka serius pascainsiden. Namun, sejumlah 15 wisatawan terdampak sesak nafas dan dievakuasi menuju Sespim Polri, Lembang.

Aparat pemerintah juga telah mengevakuasi pendaki dan pengunjung yang berada di kawasan wisata gunung. Siapa pun tidak diperbolehkan untuk menginap di dalam kawasan kawah aktif. Untuk mengantisipasi risiko yang lebih buruk, BPBD setempat mengimbau siapa pun untuk memasuki radius 2 km dari kawah gunung, sedangkan lokasi pemukiman berjarak kurang lebih 7 km dari kawah.

Saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat juga telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kabupaten Subang dan PVMBG. BPBD provinsi menurunkan tim kaji cepat ke lapangan.

Letusan Gunung Tangkuban Parahu bersifat freatik, yaitu berupa semburan lumpur dingin warna hitam dari Kawah Ratu. PVMBG melansir bahwa sebelumnya pada Oktober 2013 landaan erupsi terjadi hanya di dalam lubang kawah.

Di sisi lain, pada 2017, 2018, 2019 tepatnya bulan Juni hingga Juli terpantau gempa uap air atau asap yang diduga dikarenakan berkurangnya air tanah akibat perubahan musim. Kondisi ini mengakibatkan air tanah yang ada mudah terpanaskan dan sifatnya erupsi pendek.

PVMBG telah menyampaikan peringatan kepada pengelola kawasan sejak 10 hari lalu terkait dengan kondisi yang mungkin terjadi. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan apabila terjadi erupsi, seperti pada Oktober 2013 dan diikuti peringatan kemungkinan erupsi yang terjadi secara tiba-tiba.

Analisis PVMBG menyebutkan bahwa radius aman erupsi, seperti halnya freaktik pada Oktober 2013, adalah tidak mendekati kawah atau kurang dari 500 meter (radius bibir kawah 400 meter).

Sehubungan dengan fenomena terkini, PVMBG menginformasikan erupsi susulan dapat saja terjadi dengan potensi landaan masih di sekitar dasar kawah. Namun dasar utama yang menentukan adalah data yang terekam.

Agus Wibowo, Plh. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB dalam rilisnya menyebutkan, saat ini tingkat ancaman masih di dalam kawah sehingga belum perlu kenaikan status, kecuali ke depan ada potensi radius landaan yang membesar. (*)

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru