Minggu, 28 Juni 2026

Tren Mudik Lebaran 2026: Tiket Satu Arah hingga Vila Keluarga Makin Diminati


  • Jumat, 13 Maret 2026 | 19:30
  • | News
 Tren Mudik Lebaran 2026: Tiket Satu Arah hingga Vila Keluarga Makin Diminati Tren Mudik Lebaran 2026: Tiket Satu Arah hingga Vila Keluarga Makin Diminati. (Iliustrasi:AIRASIA Move)

JAKARTA, ARAHDESTINASI.COM – Tradisi mudik dan liburan Lebaran selalu menjadi salah satu momen perjalanan terbesar di Asia Tenggara. Menjelang Lebaran 2026, mobilitas masyarakat diperkirakan kembali melonjak seiring keinginan banyak keluarga untuk berkumpul dan menikmati waktu liburan bersama.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Perhubungan memperkirakan pergerakan masyarakat selama periode Angkutan Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang, atau sekitar 50,60 persen dari total populasi. Angka ini menunjukkan bahwa musim Lebaran tetap menjadi momentum puncak perjalanan tahunan.

Namun di balik tradisi mudik yang tetap kuat, cara masyarakat merencanakan perjalanan kini mulai berubah.

Berdasarkan data pemesanan perjalanan pada periode 15–28 Maret 2026, platform perjalanan AirAsia MOVE mengidentifikasi tiga tren utama yang menggambarkan bagaimana masyarakat ASEAN kini lebih fleksibel dan cermat dalam merencanakan perjalanan mereka.

1. Tiket Satu Arah dan Kombinasi Maskapai Semakin Populer

Salah satu perubahan paling terlihat adalah meningkatnya fleksibilitas dalam memilih penerbangan.Melalui platform MOVE yang menyediakan akses ke lebih dari 700 maskapai global, banyak pengguna kini memilih mengombinasikan maskapai berbeda untuk perjalanan pergi dan pulang.

Sebagian bahkan hanya membeli tiket satu arah terlebih dahulu, sementara jadwal kepulangan diputuskan kemudian.

Pada musim Lebaran tahun ini, tercatat hampir 300.000 kursi penerbangan terjual dalam bentuk tiket satu arah, baik dari maskapai berbiaya rendah maupun maskapai premium.

Pola ini menunjukkan bahwa banyak keluarga kini ingin memiliki kebebasan dalam menentukan jadwal pulang, sekaligus menyiasati fluktuasi harga tiket pesawat yang biasanya meningkat tajam saat musim liburan.

2. Akomodasi Multi-Kamar Jadi Pilihan Favorit Keluarga

Perubahan pola perjalanan juga terlihat dari pilihan akomodasi.Alih-alih memesan kamar hotel secara terpisah, banyak keluarga kini memilih akomodasi yang dapat menampung banyak orang dalam satu unit.

Beberapa pilihan yang semakin diminati antara lain:

  • Vila keluarga
  • Apartemen berlayanan
  • Suite hotel dengan beberapa kamar

Selain lebih praktis, opsi ini juga dianggap lebih hemat biaya, karena pengeluaran penginapan bisa dibagi di antara anggota keluarga.

Melalui aplikasi MOVE, pengguna cukup memasukkan jumlah tamu dewasa dan anak saat melakukan pemesanan. Sistem kemudian akan secara otomatis merekomendasikan tipe akomodasi yang sesuai serta menyesuaikan jumlah kamar yang dibutuhkan.

Fitur ini membuat proses merencanakan perjalanan keluarga menjadi lebih praktis dan efisien.

3. Tetap Nyaman, Tapi Pengeluaran Lebih Terukur

Meski tradisi mudik tetap menjadi prioritas, masyarakat kini terlihat semakin bijak dalam mengatur anggaran perjalanan.Banyak pelancong masih memilih akomodasi yang nyaman, namun dengan harga yang lebih rasional.

Data dari MOVE menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran untuk hotel selama periode Lebaran sekitar Rp1,1 juta per malam. Angka ini mencerminkan preferensi terhadap penginapan yang tetap nyaman namun memberikan nilai terbaik bagi pengeluaran keluarga.

Tren ini menunjukkan bahwa perjalanan Lebaran kini tidak hanya soal pulang kampung, tetapi juga tentang perencanaan keuangan yang lebih matang.

Promo Mudik Lebaran dari AirAsia MOVE

Menanggapi tren perjalanan tersebut, AirAsia MOVE menghadirkan kampanye Mudik Lebaran dengan berbagai penawaran menarik.

Promo yang tersedia antara lain:

  • Diskon hingga Rp280 ribu untuk paket SNAP (penerbangan + hotel)
  • Potongan hingga Rp200 ribu untuk pemesanan hotel

Promo ini berlaku hingga 29 Maret 2026, sehingga pengguna dapat merencanakan perjalanan mudik maupun liburan dengan lebih hemat.

CEO AirAsia MOVE, Nadia Omer, mengatakan bahwa tren perjalanan Lebaran menunjukkan perubahan pola perilaku konsumen di kawasan ASEAN.

“Bagi industri perjalanan, tren ini menunjukkan pentingnya menghadirkan pilihan yang lebih beragam, harga yang transparan, serta fleksibilitas yang tinggi,” ujarnya.

Menurut Nadia, momentum Lebaran menjadi kesempatan bagi industri perjalanan untuk membantu masyarakat merencanakan mobilitas secara lebih efisien, sekaligus tetap menjaga tradisi berkumpul bersama keluarga.

Secara keseluruhan, Lebaran 2026 bukan hanya menjadi musim puncak perjalanan, tetapi juga mencerminkan perubahan cara masyarakat ASEAN merencanakan perjalanan mereka dengan lebih fleksibel, cermat, dan hemat.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru