Loading
Saumlaki/Foto: Jack Gobang
JIKA berwisata di Maluku Tenggara Barat, kurang lengkap rasanya jika tidak singgah di Desa Sangliat Dol. Di sini ada Perahu Batu yang jadi magnet wisatawan. Hingga saat ini, masih banyak ilmuwan mancanegara meneliti Perahu Batu ini.
Kabut pagi menyelimuti Bandara Pattimura, Ambon. Rasa kantuk setelah menempuh perjalanan selama tiga jam dari Bandara Soekarno-Hatta seketika sirna. Sejenak kami beristirahat sambil menikmati kue dan secangkir teh. Selesai itu, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Saumlaki terletak di selatan Pulau Yamdena, pulau terbesar dari antara gugusan pulau di Kepulauan Tanimbar. Kota ini menjadi pintu gerbang untuk menjelajahi keindahan panorama gugusan Kepulauan Tanimbar. Untuk sampai ke pulau yang daratannya didominasi kapur dan karang, ini Anda harus menggunakan pesawat Trigana Air atau Wings Air dengan kapasitas penumpang 72 orang. Untuk sementara, hanya jenis pesawat bermesin twin-turboprop ini yang melayani rute penerbangan Pattimura-Saumlaki. Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat, hingga saat ini, masih terus membangun infrastruktur fisik bandara agar dapat didarati pesawat jenis boeing.
Baca juga:
Potongan Tubuh di Perut Hiu Dipastikan Wisatawan AS yang Hilang di Perairan Maluku Barat DayaPukul 07.40 WITA, pesawat lepas landas. Perjalanan udara ditempuh dalam waktu 1,45 jam untuk sampai di Bandara Mathilda Batlayeri, Pulau Yamdena. Dari bandara, Anda bisa menggunakan mobil carteran menuju kota Saumlaki. Biayanya Rp 200.000 untuk sekali perjalanan yang memakan waktu 20 menit. Jalan keluar-masuk bandara hingga saat ini masih dalam proses pengaspalan. Jika mencari penginapan dengan pemandangan teluk dan pelabuhan Saumlaki, Hotel Harapan Indah bisa menjadi pilhan. Masyarakat sekitar menyebut hotel ini dengan nama “Ha-i”. Bangunan hotel sebagian besar terbuat dari kayu. Pihak pengelola hotel sudah menyedakan wi-fi. Komunikasi dengan telepon genggam pun cukup baik.
Dari tempat ini, Anda dapat melihat kapal feri bersandar, yacht (kapal layar ringan), nelayan menjala ikan, burung bangau berseliweran, desiran ombak, hingga menyaksikan sunset yang menyejukan jiwa. Harga penginapan berkisar antara Rp 250–700 ribu per malam. Tempat ini juga menjadi favorit bagi turis mancanegara. Ketika kami tiba di penginapan pukul 11.20 WITA, puluhan turis dari Belanda, Australia, Belgia, dan negara lainnya sudah mengisi hampir setiap kamar hotel. Kami beruntung. Masih ada kamar hotel yang belum terisi.
Baca juga:
Maluku Utara Kembangkan Desa WisataPerahu BatuSejam setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Sangliat Dol, Kecamatan Wertambrian, dengan mobil dinas milik Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Cuaca sangat terik. Rumput ilalang, semak belukar, pohon kelapa, hingga pohon pisang yang daunnya sudah mulai menguning menjadi pemandangan kami sepanjang perjalanan. Jalan yang kami lalui mengular dan membelah bukit. Gersang dan tandus. Laju kendaran harus diperlambat saat melewati tanjakan dan tikungan tajam.
Kami tiba pukul 12.05 WITA. Senyuman anak-anak yang sedang bermain menyambut kami. Sementara sebagian yang lain sedang membuat tas dari daun kelapa. “Di sini, anak-anak, sejak kecil, sudah belajar membuat tas anyaman,” kata seorang petugas Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Di desa ini terdapat peninggalan sejarah berupa Perahu Batu. Menurut Aloysius Ratuanak, Kepala Desa Sangliat Dol, Perahu Batu diperkirakan sudah ada sejak 500 tahun lalu. “Ini dari batu alam langsung disusun saja. Ini panjangnnya 20 m dan lebarnya 10 meter. Perahu ini merupakan buatan Suku Tanimbar. Sudah sangat banyak seniman mancanegara yang datang ke sini untuk melakukan penelitian seputar desa ini dan aset peninggalan sejarahnya,” terangnya.
Kini, Perahu Batu digunakan sebagai pusat desa. Di sini, warga melakukan rapat untuk pemilihan kepala desa yang baru. Desa ini terdiri atas 4 soa (marga): Ayo Wembun, Sorluri, Aryesam, dan Masriat. Pola pembangunan pemukiman di desa ini mengikuti pola dari Perahu Batu. “Soa Aryesam dipercaya untuk duduk di kemudi kanan Perahu Batu, maka pemukiman mereka terletak pada bagian kanan belakang desa. Dan Soa Masriat selaku tuan tanah desa duduk di kemudi kiri dan bermukim pada bagian kiri belakang desa,” sambung Aloysius.
Sangat disayangkan, kepala perahu yang terletak di haluan telah dicuri sekitar tahun 2002 lalu dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Beberapa patung yang masih ada saat ini disimpan di rumah tua, yaitu rumah yang ditempati tetua adat suku ini.
Di sisi timur Perahu Batu ada tangga yang terbuat dari batu alam. Sama seperti Perahu Batu, tangga batu ini juga hanya disusun tanpa bahan campuran lainnya. Kami mencoba menaiki anak tangga satu per satu. Jumlahnya ada 114 anak tangga. “Capek juga, ya,” kata seorang rekan ketika kami tiba di anak tangga teratas.
Rasa letih itu terbayar lunas. Dari ujung anak tangga, kami dapat melihat langsung keindahan Pantai Lemditi Dalam. Pasir putih yang terkena pantulan sinar matahari menyilaukan mata. Turis mancanegara yang datang dengan kapal pesiar sering mengunjungi tempat ini. Kapal pesiar tidak bisa berlabuh hingga ke bibir pantai. Kapal hanya berhenti kurang lebih 1—2 km dari pantai. Beberapa nelayan setempat, dengan perahu motor, akan menjemput para turis.
Pukul 13.00 WITA. Perjalanan kami lanjutkan menuju pemandian alam di Desa Bomaki, Kecamatan Tanimbar Selatan. Perjalanan kami tempuh dalam waktu 45 menit. Di sini Anda dapat menikmati panorama alam yang indah dan sejuk. Tempatnya masih asli dan alami. Air yang mengalir dari perbukitan sangat jernih dan sejuk. Pepohonan sagu yang tumbuh lebat di sekitar pemandian semakin menambah kesan asri. Pemandian ini bak oase di tengah kota Saumlaki yang sebagian wilayahnya gersang dan tandus.
Setelah sejenak menikmati keindahan Desa Bomaki, kami kembali ke penginapan untuk santap siang. Maklum, di beberapa desa yang kami lewati, jarang sekali kami melihat rumah makan. Kalaupun ada, itu hanya warung berisi makan kecil seperti kue. Sementara di kota Saumlaki terdapat banyak rumah makan.
Sore itu, kami menikmati ikan garopa kuah asam, kangkung, dan sambal. Ikan garopa kuah asam ini terasa nikmat. Tekstur dagingnya lembut. Kuah asam yang terbuat dari belimbing wuluh, tomat, bawang merah, dan daun kemangi ini terasa segar.Matahari mulai terbenam. Angin laut berhembus pelan. Sebagian besar turis langsung beranjak dari kursi. Mereka bersandar di pagar. Sebagian dari mereka mengabadikan momen itu dengan kamera.
Pesona Terumbu Karang
Keesokan harinya, setelah sarapan pagi pukul 09.00 WITA, kami bertolak ke Desa Olilit. Di desa ini ada Pantai Weluan. Perjalanan menuju pantai dapat ditempuh selama 25 menit. Jalan mulai dari pintu masuk pantai masih kurang baik. Jalan yang tadinya beraspal sebagian sudah mengelupas. Melewati kondisi jalan seperti ini, laju kendaraan harus diperlambat.
Kurang tertata. Itulah kesan pertama saat kami tiba di Pantai Weluan. Ada banyak bangunan, yang terbuat dari kayu, rusak. Di samping bangunan tersebut terdapat sisa-sisa kayu yang sudah menjadi arang. Seandainya dikelola dengan baik, tentu pantai ini bisa menjadi magnet bagi para turis lokal maupun mancanegara.
Pantai dengan pasir putih halus ini memiliki pemandangan eksotis. Di sebelah barat pantai ini, kita dapat melihat Pulau Asutubun. Menurut survei yang dilakukan Asosiasi Wisata Bahari Gahawisri tahun 2012, Pulau Asutubun dan Nustubun memiliki kekayaan terumbu karang yang sehat dan indah. Di kedua pulau ini wisatawan mancanegara seringkali melakukan diving. Air laut di Pantai Weluan sangat jernih. Duduk di bibir pantai sambil menikmati angin pantai dan suara debur ombak bisa membuat Anda rileks. Suasana pantai yang cenderung sepi membuat Anda merasa sedang berada di pantai milik sendiri.
Puas menikmati pemandangan pantai, kami berjalan ke arah timur. Di tempat ini ada replika patung Pastor Preenk Mathias, misionaris dari ordo Fransiskan. Pastor berkebangsaan Portugis ini menginjakkan kaki di pantai ini pada awal abad ke-19. Dari tempat inilah agama Katolik menyebar ke seluruh pelosok Pulau Yamdena.
Malam harinya, kami menyusuri jalan di kota Saumlaki. Persis di halaman depan Saumlaki Town Square, ada beberapa penjaja makanan. Ikan cangkalang sambal kecap, sayur pare, irisan tahu, dan lalapan menjadi menu santap malam. Daging ikan cangkalang disiram dengan kuah soto. Keesokan harinya, kami kembali ke A mbon. Rasanya berat meninggalkan Saumlaki yang memiliki alam yang sangat eksotis. “Utar lolin verin mia. Mikmatak wabira malolin. Kubacituan Ewal (Terima kasih kepada kalian semua. Hati-hati di jalan. Sampai bertemu kembali),” kata beberapa warga Yamdena di pesisir barat. “Rio de Janeiro” di Desa Olilit
Saumlaki tidak hanya dikenal karena keindahan lautnya yang mempesona, keramahan penduduk, kerajinan tenun, seni memahat patung, dan hasil laut yang melimpah, tapi juga karena wisata rohaninya. Di Desa Olilit, Anda dapat menjumpai patung Kristus Raja dengan kedua tangan merentang. Pantung ini dibangun tepat di atas perbukitan. Di sini seringkali diadakan ibadat, ziarah, hingga rekoleksi.
Patung Kristus Raja di Olilit ini mengingatkan kita pada patung Kristus Raja di Rio de Janerio, Brazil. Keduanya memiliki kemiripan. Sama-sama dibangun di atas bukit. Dari pelataran patung, Anda dapat melihat pemandang Pantai Weluan dan gugusan pulau kecil. “Dibangunnya patung ini juga menjadi salah satu peringatan datangnnya para misionaris saat menyebarkan agama Katolik di tempat ini,” kata Ir. M. Batlolona, MT, Kepala Dinas Pariwisata dan Usaha Kreatif Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Pemerintah daerah terus berupaya membangun infrastruktur jalan, ibadah, hingga homestay bagi para pengunjung yang ingin melakukan ziarah.
Di samping patung Kristus Raja, Pulau Yamdena juga terkenal dengan kayu Torem. Jenis kayu keras ini banyak digunakan untuk membuat furnitur dan patung. Kayu jenis ini hanya tumbuh di Pulau Yamdena dan Brazil. Jack
Kacang Botol yang Mendunia
Salah satu buah tangan yang harus Anda bawa pulang saat berkunjung ke Saumlaki adalah kacang botol. Kacang botol berisi kacang tanah yang bentuknya sedikit lebih besar daripada kacang tanah biasa. Di pulau Yamdena, pohon kacang tumbuh subur. Kacang juga menjadi salah satu komoditi utama dari pulau ini di samping umbi-umbian.
Proses pembuatan kacang tanah masih bersifat tradisional dan sederhana. Kulitnya dikupas dan dagingnya diletakkan di atas wajan tanpa minyak. Lalu ditambahkan bawang putih dan garam. Garam dan bawang putih membuat daging terasa lembut dan gurih di lidah. Kacang ini kemudian dimasukkan ke dalam botol. Kacang botol sudah sejak lama dikenal. Para turis dari berbagai negara selalu membawa kacang botol. Namun, sudah sejak satu tahun belakangan ini, kemasan botol sudah mulai ditinggalkan oleh para penjual. Alasannya, kurang praktis dan seringkali botol pecah di tengah jalan jika tidak diletakkan dengan baik. Kini, pada pedagang menjual kacang tanah dalam bentuk kemasan plastik. Praktis dan lebih aman untuk dibawa.
Saat menyusuri Jalan Soekarno di jantung kota Saumlaki, Anda akan menemukan patung presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Di sekitar patung, ada lahan yang masih kosong. Di kota Saumlaki juga terdapat Gedung Kesenian. Di gedung ini festival seni dan budaya seperti, tarian, pameran patung, tenun ikat, hingga pemutaran film seringkali diadakan. “Gedung kesenian ini diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk lebih mengenal seni dan budaya Tanimbar,” katanya. (*)
Kontributor:
Jack Gobang: Jurnalis, Penyuka Traveling