Loading
Foto: IG @gesitwisnuprakoso
ARAHDESTINASI.COM: Jika ke Banyuwangi, jangan lupa mampir ke Desa Tamansari di Kecamatan Licin, sekitar 24 km dari pusat Kota Banyuwangi. Desa wisata berbasis Smart Kampung yang dirintis sejak awal 2016 ini, menarik dikunjungi. Apalagi jika kita berniat mendaki Gunung Ijen untuk melihat blue fire-nya yang terkenal.
Supaya pendakian tidak terlalu melelahkan, wisatawan bisa menginap di homestay Desa Tamansari. Homestay-homestay yang dikelola warga lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) itu bersih dan nyaman, ditawarkan dengan harga sangat terjangkau, antara Rp150 rubu hingga Rp200 ribu. Wisatawan yang berniat ke Kawah Ijen bisa beristirahat dulu tanpa khawatir terlambat memulai pendakian, karena jarak dari Desa Tamansari ke titik pendakian Kawah Ijen hanya 17 km atau sekitar 30 menit.
Selain Homestay, BUMDes Tamansari juga menyediakan transportasi yang sudah diseleksi untuk mengantar wisatawan yang ingin berkunjung ke Kawah Ijen. Harga sewa kendaraannya terjangkau, dan wisatawan akan didampingi pengemudi yang juga sudah dibekali pegetahuan dalam hal pelayanan dan berkendara.
Kawah Ijen bukan hanya terkenal dengan blue firenya saja, namun juga perjuangan para penambang belerang yang terkenal epik. Pemerintahan Desa Tamansari telah memberikan pengetahuan dan pelatihan Bahasa Inggris kepada para penambang yang mayoritas berasal dari Desa Tamansari. Berbekal kursus Bahasa Inggris berbasis desa, diharapkan para penambang juga bisa menjadi local guide yang berpengetahuan dan bisa melayani wisatawan nusantara dan mancanegara.
Wisata Alam dan EdukasiSelain Kawah Ijen, Desa Tamansari juga memiliki Sendang Seruni, yakni kolam air yang bersumber dari mata air pegunungan. Airnya segar dan bersih, disekitarnya ditanami selada air yang membuat kolam terasa lebih segar. Kolam air ini, dikelola oleh masyarakat sekitar dengan BUMDes sebagai pemodal dan pendukung. Saat ini Sendang Seruni sudah memberikan manfaat secara finansial pada masyarakat. Lokasinya tidak jauh dengan homestay-homestay yang dikelola warga yang tergabung dalam BUMDes. Jadi, dengan tinggal di Desa Tamansari, wisatawan memiliki alternatif untuk mendatangi objek-objek wisata lainnya selain Kawah Ijen.
Desa Tamansari memang kaya potensi pariwisata. Selain yang sudah disebutkan di atas, desa ini memiliki banyak potensi wisata alam, kekayaan tradisi, dan UMKM. Masyarakat desa melalui BUMDes, kini tengah menggarap wisata hutan pinus, kampong bunga, dan juga kampong Penambang.
Desa Tamansari juga memiliki wisata edukasi yang memanfaatkan UMKM, yakni peternakan sapi perah, kebun kopi, peternakan lebah madu, oleh-oleh rumahan ibu-ibu Desa Tamansari, hingga warung osing yang semuanya dikelola oleh Bumdes. Yang menarik, pemasarannya dibantu oleh pemerintah desa dan Bumdes dengan memanfaatkan teknologi Internet. Jadi, Masyarakat luas bisa mendapatkan produk dan oleh-oleh produksi Desa Tamansari secara online.
Studi TiruSikses dan bangkitnya Desa Tamansari menjadi desa wisata, membuat banyak desa-desa lain dan instansi datang untuk melakukan studi banding dan belajar bagaimana cara mengembangkan desa, sekaligus mengadopsi kegiatan dan usaha wisata yang dilakukan.
Meski telah menjadi percontohan, Rizal Syahputra, kepala Desa Tamansari dan jajarannya terus mengingatkan dan mengajak masyarakat untuk berkolabari dalam memanfaatkan semua potensi yang ada dengan bekerja bersama-sama. Pemerintah Desa Tamansari mendukung serta memberikan pelatihan-pelatihan yang diperlukan. (*)