Loading
Menginap di ketinggian tebing Gunung Parang/Dok Komunitas Padjajaran Anyar
ARAHKITA.COM: Penasaran ingin mencoba hotel gantung (skylodge) Padjajaran Anyar di Purwakarta? Silahkan booking dan bersabar, karena sampai sekarang antreannya masih panjang. Maklum hingga saat ini baru ada satu unit dan dalam satu minggu flying camp itu diistirahatkan tiga hari untuk maintenance. “3 hari jeda untuk maintenance tidak bisa diganggu gugat. Kami mengutamakan perawatan dan safety,” ujar Dhani Daelami, penasihat Badega Parang Padjajaran Anyar, komunitas yang membangun dan mengelola flying camp Padjajaran Anyar.
Skyload (flying camp) yang menempel di dinding Gunung Parang, Purwakarta itu disebut-sebut tertinggi di dunia, dibangun di ketinggian 500 meter. Skylodge di Peru yang terkenal, menggantung di ketinggian sekitar 400 meter.
Tarif permalam Skylodge Padjajaran Anyar sekitar Rp4 juta, dengan fasilitas layaknya sebuah kamar hotel, mulai dari pendingin ruangan, toilet kering, wifi, , televisi, hingga kompor dan microwave. Bagaimana dengan pengolahan limbah toilet? Para pemuda yang tergabung dalam komunitas, katanya, akan membersihkan septic tank yang melekat pada bangunan. Wisatawan bisa buang air kecil dan besar, tetapi tidak untuk mandi. Limbah dari toilet langsung dialirkan ke dalam septic tank yang yang bisa membuat limbah menjadi gel.
Untuk mencapai hotel gantung itu tidak sulit, tetapi memang butuh keberanian. Sensasi menginap di ketinggian diawali dengan menyusuri tebing Gunung Parang. Wisatawan harus mendaki tangga yang dipasang permanen di dinding tebing. Tentu kegiatan via ferrata itu dilengkapi dengan pengaman, mulai dari helm, sarung tangan, tali pengaman, dan pemandu berpengalaman.
Buat penderita jantung dan phobia ketinggian, jelas tidak disarankan. Namun, menurut Dhani, pendakian via ferrata bisa dilakukan semua usia. Tercatat, pendaki tebing termuda yang sukses menjajaki jalur tersebut, baru berusia lima tahun.
Mencari InvestorMengapa hanya dibangun satu flying camp? Dhani mengatakan, ada rencana untuk terus menambah jumlah hotel gantung, namun terkendala dana. “Tebing Gunung Parang ini bisa menampung 99 flying camp. Tapi kami belum memiliki dana dan sedang mencari investor yang tertarik. Untuk satu flying camp, butuh anggaran sekitar Rp300 juta,” papar Dhani. (*)