ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Olimpiade Tokyo, TikTok, Kemegahan, dan Kerugian Jepang

Sabtu , 14 Agustus 2021 | 16:18
Olimpiade Tokyo, TikTok, Kemegahan, dan Kerugian Jepang
Foto ilustrasi: Walkerssk from Pixabay
POPULER

ARAHDESTINASI.COM: Penyelenggaraan Olimpiade Tokyo di tengah pandemi menyisakan banyak gempita sekaligus persoalan yang harus diatasi pemerintah Jepang terkait investasi yang sudah dilakukan.

Pandemi memang membuat banyak perubahan. Gempita Olimpiade Tokyo begitu terasa di media sosial, utamanya TikTok yang popularitasnya naik tajam seiring dengan pandemi Covid-19.

Masyarakat umum yang penasaran dengan apa yang terjadi di balik layar Olimpiade Tokyo, terpuaskan dengan postingan di media sosial ini.

Screen Shot 2021-08-14 at 4.46.17 PM

Foto: popmama / TikTok Codymelphy

Para atlet Olimpiade dari berbagai negara memberikan konten bahkan tur keliling Olympic Village, Food Hall dan Recreation Room. Beberapa dari mereka membuat video sehari-hari dan berbagai keunikan dan kelucuan yang ada dan terjadi selama Olimpiade.

Screen Shot 2021-08-14 at 4.40.22 PM

Foto: popmama / TikTok Codymelphy

Atlet Ilona Maher berbagi di TikTok-nya bahwa Selandia Baru adalah negara pertama yang merusak tempat tidur di mess Olimpiade Tokyo. Cody Melphy berbagi banyak hal tentang keseharian dan fasilitas di Olympic Village Tokyo.

Selain itu, Banyak atlet mewawancarai rekan satu tim mereka, meninjau makanan, memberikan tutorial tentang cara mencuci baju sendiri, menyatakan kekagunm dengan mesin penjual otomatis gratis yang tersedia, layanan robot, kisah bus tanpa pengemudi, dan masih banyak lagi.

Kerugian Ekonomi

Namun, di balik kemegahan tersebut, Jepang mengalami kerugian besar di bidang pendanaan. Nomura Research Institute seperti dirilis Antara, menyebutkan bahwa Olimpiade Tokyo yang disebut Universitas Oxford di Inggris sebagai Olimpiade termahal sepanjang masa itu gagal menyuntikkan darah segar pada perekonomian Jepang.

Padahal sebelum pandemi, pada umumnya Olimpiade mampu memberikan tambahan 0,33 persen untuk produk domestik bruto (GDP) atau sekitar 1,8 triliun yen (Rp235 triliun).

jepang

Foto: The Japan Times

Mei lalu, ekonom-ekonom Jepang memrediksi jika Olimpiade Tokyo dibatalkan maka implikasi negatif terhadap perekonomian Jepang bakal demikian besar. Padahal negeri itu di ambang resesi hebat.

Salah seorang ekonom, kepala ekonom Dai-Ichi Life Research Institute Toshihiro Nagahama, menyebut kerugian ekonomi yang diderita Jepang bisa mencapai 1,4 triliun yen (Rp186 triliun), sedangkan Takahide Kiuchi dari Nomura Research Institute Ltd menaksir angka 1,8 triliun yen (Rp236 triliun).

Jepang sendiri sejak awal menginginkan Olimpiade Tokyo ini menjadi ajang untuk menunjukkan mereka masih menjadi kekuatan ekonomi global sekalipun kemapanan ekonominya telah lama tersalip oleh China.

Jepang juga ingin menunjukkan mereka telah bangkit dari bencana tsunami dan nuklir dahsyat pada 2011.

Dan Olimpiade Tokyo pun tetap mereka gelar, di bawah hujan kritik dari separuh jumlah penduduk dan di bawah bayang-bayang rugi besar ketika segala gambaran positif mengenai insentif ekonomi besar dari Olimpiade pupus di bawah aturan-aturan ketat terkait pandemi.

Di antaranya yang jelas paling mengerikan adalah larangan adanya penonton di dalam stadion. Padahal kehadiran penonton lebih dari sekadar pemasukan tiket, namun juga pesan kuat mengenai situasi nasional Jepang.

Gambaran kerugiian besar dari aspek ekonomi pun kian mencuat. Untuk menyelenggarakan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo ini, Jepang diperkirakan mengeluarkan dana 1,64 triliun yen (Rp214 triliun) atau 22 persen lebih tinggi dari taksiran sebelum Olimpiade ini dinyatakan ditunda pada 2020.

Angka itu juga dua kali lipat dari estimasi awal Jepang sebesar 800 miliar yen (Rp104 triliun) ketika Tokyo pertama kali mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2020.

japan

Foto: Japan Travel

Namun yang didapat Jepang saat ini hampir tak ada, alih-alih harus mengembalikan sebagian besar dana, begitu Olimpiade ini selesai.

Oleh karena itu, dari sisi ekonomi, tak ada yang bisa dipetik Jepang, karena mulai pemasukan tiket, sampai tagihan asuransi dan sponsor, semuanya runtuh.

Dalam urusan tiket misalnya. Sebelum memutuskan menunda Olimpiade ini pada 2020, 4,48 juta tiket sudah habis terjual dan diperkirakan memberikan pemasukan sebesar 90 miliar yen (Rp11,79 trilun).

Semua angka itu raib tak bisa diraih, karena memang tak ada penonton yang boleh masuk stadion, bahkan semua pintu masuk Jepang tertutup kecuali untuk orang-orang yang terkait langsung dengan arena Olimpiade.

Jepang juga harus menanggung klaim asuransi gila-gilaan yang menurut taksiran lembaga pemeringkat Fitch mencapai 2,5 miliar dolar AS (Rp36 triliun) yang sebagian besar untuk hak siar televisi dan sponsor, dan sisanya perhotelan dan akomodasi lain yang rugi berat karena tiada orang asing yang datang ke Jepang.

Sponsor yang di antaranya melibatkan 60 perusahaan Jepang, termasuk Toyota dan Panasonic, juga tak kalah rugi. Mereka total membayarkan dana sponsor 3,2 miliar dolar AS (Rp46,2 triliun).

Pariwisata
Namun, di antara semua itu, yang paling menyiksa adalah musnahnya impian menggenjot pariwisata yang sempat diproyeksikan naik empat kali lipat dari angka 30 juta turis per tahun. Semuanya lenyap ditelan pandemi virus corona.

Padahal setahun sebelum pandemi pada 2019, Jepang telah mengalokasikan hampir 4,81 triliun yen (Rp629 triliun) untuk mempermak hotel-hotel, restoran, toko dan jasa lainnya sehingga ketika Olimpiade tiba semakin banyak turis yang datang untuk kemudian menjadi cerita yang dibagikan kepada calon-calon turis setelah mereka kembali ke negara mading-masing.

city-666093_1280

Foto: 二 盧 from Pixabay

Meski Pemerintah Jepang tahu harus menanggung tagihan dan kerugian luar biasa, namun mereka tetap bersikukuh menyelenggarakan Olimpiade di bawah aturan ketat. Jepang berhasil membuat acara olahraga paling kolosal sejagat itu digelar dengan aman. Angka infeksi Covid-19 sangat rendah di arena Olimpiade, hanya 0,01 persen.

Semua acara Olimpiade pun mulus digelar nyaris tanpa gangguan dan keluhan, sekalipun di bawah protokol kesehatan superketat yang di antaranya mengharuskan atlet tetap dalam gelembung Olimpiade dan segera pulang ke negerinya begitu menyelesaikan kompetisi.

Tak heran Chef de mission Australia Ian Chesterman memuji Jepang dan bahkan akan menggunakan Olimpiade Tokyo sebagai peta jalan untuk Olimpiade Brisbane 2032.

Dia memuji daya tahan dan keterampilan Jepang dalam mengorganisasikan acara super besar ini, sampai dia memberi angka “11 untuk nilai maksimal 10”.

Meski harus menanggung kerugian besar, Jepang setidaknya berhasil menggemakan brand ke generasi-generasi muda penggemar media sosial, khususnya TikTok yang berdasarkan data Februari 2021, pengguna aktif di dunia mencapai 25 juta.

Olimpiade Tokyo setidaknya menjadi promosi pariwisata masa depan ‘Negeri Matahari Terbit’. Kiki Wang, 19 yang kini terpaksa kuliah online, bersama dua temannya mengaku selalu mengikuti isu Olimpiade lewat TikTok selama event besar itu diselenggarakan.

“Kami bertekad, jika situasi mereda, kami akan ke Jepang. Saya dua tahun lalu sudah pernah ke sana. Mungkin tahun depan atau jika situasi tidak memungkinkan, saya dan dua sahabat akan berangkat pada 2023. Negeri itu menarik,” katanya. (*)

 

 

KOMENTAR