ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Melihat Burung Kokokan di Desa Petulu Bali

Senin , 09 Juli 2018 | 15:12
Melihat Burung Kokokan di Desa Petulu Bali
Foto: Dok Kemende PDTT

ARAHDESTINASI.COM: Sebentar lagi wisatawan mancanegara mau pun nusantara bisa datang kapan saja untuk menyaksikan habitat burung Kokokan (bangau) di Banjar Petulu Gunung, Desa Petulu, Gianyar, Bali. Selama ini, wisatawan yang datang kerap kecewa, karena biasanya burung Kokokan baru ramai membuat sarang di bulan Oktober hingga Maret. Di luar bulan itu, hanya sedikit yang datang. Itu pun baru ada di malam hari, dan pagi-pagi sekali sudah terbang mencari makan.

Berdasarkan kenyataan tersebut, warga Petulu memutuskan membangun penangkaran burung dengan memanfaatkan dana desa yang besarannya mencapai Rp259 juta. “Penangkaran burung Kokokan ini idenya datang dari masyarakat untuk lebih mengembangkan desa wisata,”
ujar Kepala Desa petulu Tjokorda Agung Setia Dharma didampingi Kepala Banjar Petulu Gunung Made Rawo di Lokasi penangkaran di Desa Petulu,Gianyar Bali. Penjelasan itu diberikan saat menerima kunjungan perwakilan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) belum lama ini.

Penangkaran dibuat di hutan buatan yang lokasinya masuk dalam pura dan tidak jauh dari tepi jalan. Di musim bertelur hingga menetas, pohon-pohon di tepi jalan dan dalam hutan buatan penuh dengan burung kokokan. Pada saat itu banyak anak kokokan yang jatuh dari pohon.

“Biasanya induk tak mau lagi memelihara. Burung-burung kecil itu banyak yang mati. Karena itu, kami berencana melakukan penangkaran. Selain untuk pelestarian, digunakan juga untuk kepentingan wisata desa, supaya wisatawan yang datang untuk melihat kokokan di luar musim (Oktober - Maret) tidak kecewa,” terang Tjokorda.

Wisata Desa Petulu Gunung, dikelola bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Wisatawan yang datang dikenai biaya Rp20 ribu (dewasa) dan Rp15 ribu (anak-anak). Para pemuda desa yang bertugas merangkap menjadi pemandu lokal. Mereka bukan hanya mengantar dan memberi keterangan tentang wisata kokokan, tetapi juga membimbing witsawan untuk menelusuri desa melihat lukisan dan kerajinan ukiran yang menjadi salah satu mata pencaharian pendamping warga desa tersebut.

Keberadaan burung kokokan diyakini warga sebagai bagian dari keseimbangan alam yang harus dijaga. Warga hidup berdampingan dan terus berusaha menjaga kelestarian pepohonan dan kokokan. “Ini sudah maunya yang di atas supaya kami hidup berdampingan. Dari sisi kesehatan kami juga terus dipantau Dinas Kesehatan. Sampai sekarang tidak ada persoalab,” pungkas Tjokorda. (*)

KOMENTAR