ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Ini Strategi KLHK Garap Wisata Alam di Era Kenormalan Baru

Rabu , 15 Juli 2020 | 23:23
Ini Strategi KLHK Garap Wisata Alam di Era Kenormalan Baru
Foto ilustrasi: Giustiliano Calgaro from Pixabay
POPULER

ARAHDESTINASI.COM: Wisata alam yang diramalkan menjadi potential winner di era kenormalan baru, terus berbenah, termasuk melakukan promosi terintegrasi melalui media sosial dan berbagai program kampanye.


Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nandang Prihadi, menjelaskan bahwa untuk menjadikan wisata alam sebagai potential winner di masa kenormalan baru, pihaknya akan menerapkan strategi 3 C.


“Kami akan terapkan strategi Community, Commodity, dan Conservation for human healing atau 3C,” ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan Universitas IVET Semarang dengan topik, Tantangan Pengelolaan Wisata Alam Berkelanjutan dalam Menghadapi Kenormalan Baru.


Wisata alam, lanjut Nandang, akan menjadi pilihan destinasi yang tepat. Bukan hanya sekadar berwisata, namun juga bisa menjadi media healing.


“Pengunjung dapat merasakan ketenangan dan melepaskan penat dengan suasana alam yang ditawarkan. Hal ini juga merupakan poin plus bagi sektor wisata alam untuk lebih unggul dibandingkan dengan jenis wisata lain,”


Saat ini, tutur Nandang, hampir semua kawasan konservasi mengalami perbaikan kondisi fisik karena tidak ada kunjungan. “Ini sinyal positif dan semoga di era normal baru bisa terus dipertahankan, sehingga dapat terwujud wisata alam yang berkelanjutan.”


Untuk mewujudkan semua itu, secara garis besar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerapkan tiga tahapan mulai dari era pandemi Covid-19 hingga masa kenormalan baru.


“Kita menyusun rencana aksi wisata alam, mulai dari tahap tanggap darurat, tahap pemulihan, dan yang terakhir tahap normalisasi,” jelas Nandang.


Tahap awal dimulai dengan peringatan penutupan kawasan wisata alam, baik melalui media sosial, siaran pers hingga surat edaran. Penutupan itu dilakukan dengan mempertimbangkan kebijakan pemerintah mengenai physical distancing yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus covid-19.


Jumlah kawasan konservasi yang ditutup ukup banyak, rinciannya ada 54 taman nasional, 134 taman wisata alam, dan 80 suaka margasatwa.


Setelah melewati tahap tanggap darurat, selanjutnya akan diberlakukan pemulihan dengan meyakinkan masyarakat setempat untuk datang kembali mengunjungi wisata alam.


Adanya pembukaan kembali wisata alam ini awalnya menurut Nandang, hanya untuk domestik dan tanpa ada mass tourism (wisatawan dalam jumlah yang banyak). Kemudian akan dibuka bertahap untuk wisatawan antarkota.


Nandang berharap fase pemulihan bisa selesai di akhir 2020, hingga bisa beranjak ke tahap normalisasi, yaitu pada bulan Januari 2021.
“Semua tahapan ini tentunya kami lakukan dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku, sehingga wisatawan yang ingin berkunjung tidak perlu khawatir,” pungkasnya. (Aulia/*)

KOMENTAR