ARAH KITA | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Coba Sendiri Nikmatnya Pecel Lele Pak Jo

Selasa , 22 September 2020 | 12:00
Coba Sendiri Nikmatnya Pecel Lele Pak Jo
Foto: Dok Lintang

ARAHDESTINASI.COM: Suka pecel lele? Jenis makanan ini gampang didapat, mulai dari restoran hingga tenda-tenda pinggir jalan.

Pecel lele, menu rakyatan yang bisa tampil dalam berbagai variasi olahan dan sambal pendamping. Cocok disantap sebagai lauk makan siang maupun malam hari. Setuju?

Masalahnya, mencari pecel lele dengan cita rasa yang pas tidaklah mudah. Apalagi dipadu dengan menu lain yang tak kalah menggiurkan, plus suasana outdoor yang asri dan mirip dengan nuansa rumahan dan harga ramah kantong.

Pecel Lele Pak Jo
Cobalah datang ke Pecel Lele Pak Jo yang salah satu cabangnya terletak di Bumi Serpong Damai (BSD), Rawa Buntu, Tangerang. Bisa juga mampir di cabang Alam Sutra, Tangerang. Keduanya menyajikan menu yang sama. Bedanya, di cabang Rawa Buntu ada kounter kopi yang menawarkan aneka kopi nusantara dalam berbagai olahan.

20200904_131840

Apa istimewanya? Sambal jadi kekuatan utama. Sambal pecel lele di Pak Jo berbeda dengan sambal-sambal yang biasa ditemui. Dibuat dari bahan mentah dengan aroma jeruk limau.

Istimewanya lagi, lalapan pendamping berbeda dibandingkan dengan pecel lele pada umumnya. Tidak ada timun atau pun daun kemangi. Sebagai ganti ada kangkung dan taoge rebus.

Jika tak suka lele, bisa pesan pecel ayam yang disajikan dengan sambal dan lalap serupa. Lengkapi santap siang atau malam dengan beragam menu lain yang tak kalah menggiurkan. Cobalah padukan dengan sayur asam, ongseng genjer, dan tahu serta tempe goreng.

Selain pecel lele dan ayam, ada beragam menu lain yang bisa dicoba. Mulai dari gudeg dan ongseng mercon khas Jogja, sampai pindang iga, sop iga, sop empal dan masih banyak lagi. Di satu tempat ini, seluruh selera keluarga bisa terpenuhi.

Berapa kira-kira kisaran harga yang ditawarkan? Menu makanan ditawarkan dengan harga mulai Rp23 ribu hingga Rp60 ribu. Untuk pecel lele, perporsi dengan isian dua lele dibanrol Rp23 ribu.

Konsep Terbuka
Satu lagi yang menarik, Pecel Lele Pak Jo mengusung konsep ruang terbuka yang mirip dengan rumah. Bangunannya dilengkapi dengan teras depan dan teras belakang yang langsung berhadapan dengan taman.

20200904_131908

Di masa pandemi seperti sekarang, konsep terbuka seperti itu, jelas terasa lebih melegakan. Pergantian udara lancar, ditambah dengan penerapan protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan yang tersedia di beberapa titik dan keharusan para staf untuk mengenakan masker.

Selain itu, karena tempatnya luas, jangan khawatir dengan aturan social distancing.
Dengan cita rasa yang tidak biasa dan konsep ruang terbuka seperti itu, tidak mengherankan jika Pecel Lele Pak Jo langsung mencuri hati konsumen. Meski masih baru, cabang di BSD sudah dikenal banyak orang.

Omsetnya pun menurut Agung Kusuma Wardhana, owner generasi kedua, sudah separuh dari cabang kedua di Alam Sutra. Di cabang ketiga (BSD), untuk pecel lele saja bisa habis 50 kg di saat akhir pekan. Sedangkan di cabang Alam Sutra bisa dua kali lipat, antara 100 hingga 110 kg.

20200904_131952

“Sampai saat ini, kami memiliki tiga cabang, yang pertama di Palembang, kedua di Alam Sutra, dan ketiga di BSD, Tangerang. Di cabang ketiga ini kami padukan dengan konsep outlet kopi,” jelas Agung.

Asal Nama Pak Jo
Dari mana asal muasal nama Pak Jo? Agung berkisah, seringkali orang salah mengira bahwa Pak Jo adalah nama sang ayah. Namun, Pak Jo didapat dari nama daerah di Palembang, tempat pertama kali buka pada tahun 1982. Tempat yang nama panjangnya Jalan Demang Lebar Daunitu, lebih kerap disebut oleh masyarakat Palembang dengan nama Simpang Pak Jo. Dari situlah nama Pecel Lele Pak Jo berasal.

Sang ibulah yang awal mula membuka tempat makan dan menuangkan keahlian memasaknya dengan menu utama pecel lele. Pada awal berdiri, cerita Agung, banyak masyarakat Palembang yang terkejut dan menolak.

Bagi masyarakat Sumatra Selatan, saat itu makan lele belum familiar. Apalagi disajikan dalam cobek bersama sambal, dianggap kurang pantas. “Perlahan-lahan kami memberikan penjelasan bahwa konsep cobek berasal dari Pulau Jawa. Bahkan cobek juga digunakan dalam penyajian di keraton. Perlahan-lahan masyarakat memahami, dan Pecel Lele Pak Jo sampai sekarang masih tetap eksis,” tutur Agung.

Sejak berdiri 1982 hingga sekarang, cita rasa pecel lele dan sambalnya terus dipertahankan. Resep keluarga itu kemudian dibawa ke cabang kedua dan ketiga yang saat ini berdiri di Tangerang.

“Ibu tidak lagi turun langsung. Paling sesekali mengontrol rasa di berbagai cabang,” ujar Agung sembari menambahkan bahwa pecel lele tanpa sambal ternyata juga disukai anak-anak, disamping menu ayam goreng dan cumi goreng tepung.

Penasaran dengan sambal dan lalap Pecel Lele Pak Jo? Silakan merapat. Jangan khawatir, tempat parkir yang disediakan cukup luas. (*)

KOMENTAR